Kata kata Politik ‘gentong babi’ sering kali terdengar dari mulut seorang jurnalis senior Yanto Budiman Situmeang. Dulu diwaktu Pilpres 2024 beliau sering kali menyampaikan padaku bahwa politik gentong babi itu sangat tidak bagus.
Saya pun mencoba mencari apa arti dari Politik gentong babi atau yang sering di sebut “Pork Barrel Politics” yang dimaksud abang Yanto tersebut.
Dari penjelajahan pengertian dari “Pork Barrel Politics” banyak bisa dikutip pengertian gentong babi tersebut, tapi saya hanya mencoba mengambil salah satu informasi, yang saya kutip dari Kompas.com, bertuliskan dari jurnal Politik Pork Barrel di Indonesia (2011) oleh Antonius Saragintan dan Syahrul Hidayat, mengartikan politik gentong babi: “Politik gentong babi adalah usaha petahana (incumbent) untuk menggelontorkan dan mengalokasikan sejumlah dana, dengan tujuan tertentu.”
Melihat keadaan tahun perpolitikan sekarang ini, pasti politik gentong babi akan dimanfaatkan para incumbent untuk dapat kembali meraup suara masyarakat, agar mereka kembali duduk sebagai kepala daerah lagi.
Tidak sampai disitu saja, para pakar politik juga tidak luput dari menganalisis politik gentong babi dari sudut pandang ilmiah. Mereka melihatnya sebagai cerminan dari kondisi politik yang kompleks dan seringkali tidak ideal. Analisis mendalam diperlukan untuk memahami fenomena ini secara menyeluruh.
Bagi masyarakat politik gentong babi dapat memengaruhi persepsi dan sikap masyarakat terhadap politik secara keseluruhan. Masyarakat perlu waspada dan kritis terhadap praktik politik yang mencurigakan dan berpotensi merugikan.
Sebagai masyarakat tentu menangani politik gentong babi bukanlah tugas yang mudah. Tantangan dalam menghadapi perilaku politik yang tidak etis ini memerlukan kerjasama dan kesadaran bersama. Upaya untuk mengatasi dampak negatif politik gentong babi harus dilakukan secara holistik dan berkelanjutan.
Sementara itu politik gentong babi adalah fenomena kompleks dalam dunia politik yang tidak bisa diabaikan. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, kita diharapkan mampu melawan praktik politik yang tidak etis dan merugikan.
Nah, gelagat politik Gentong Babi ini sepertinya sudah mulai dimainkan terutama para incumbent kendati tidak semuanya. Di Rokan hilir misalnya Bupati Afrizal Sintong pasti ingin berkuasa kembali’ dengan memanfaatkan berbagai cara demi merengkuh kekuasaan yang kedua kali setelah pada Periode pertama dinilai gagal menjalankan amanah masyarakat Rokan Hilir.
Akibatnya, muncullah kandidat Kandidat lainnya untuk mengimbangi hegemoni Bupati yang seringkali membuat kebijakan yang kontroversial ini. contoh paling nyata adalah saat Pileg lalu, Sintong all out untuk memenangkan anak dan adik perempuan nya. Namun sang adek terpaksa menelan pil pahit karena kalah dengan DR Hj Karmila Sari SKom MM, ayahnya seorang Tokoh masyarakat Rohil Haji Bistaman yang belakangan bikin heboh dunia politik lokal dengan majunya pengusaha sukses ini melawan Afrizal Sintong.
Jika pasangan Bistaman -Jhonny Charles menang maka tamatlah karir politik Sintong. Artinya secara elektoral Epi Sintong boleh diunggulkan namun secara variabel lain bukan tak mungkin situasi politik berbalik arah: Bistaman -Jhonny Charles berpotensi menjadi calon pemimpin di Negeri seribu kubah.
Kendati demikian, masih ada waktu dan ruang bagi kita mengedukasi mereka agar berhati-hati dalam memilih pemimpin. Lihatlah prestasi dan rekam jejak seorang kandidat. Itulah PILIH! Tentu saja.
Oleh : Alvie Abidin SH
Jurnalis, Anggota Bidang Hukum JMSI Riau, dan cucu dari Abdullah Sukup, (tokoh masyarakat Bentayan Rokan Hilir)







Komentar