Dumai, detaksatu : Opini beredar yang mendiskreditkan Dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama Kota Dumai yang menyediakan produk makanan bergizi gratis (MBG) untuk SMAN 2 Kota Dumai dinilai telah menzalimi dapur SPPG yang telah beroperasi sejak Februari 2026. Mis prosedur pasca kejadian yang melebihi waktu selayaknya membuat persoalan melebar hingga merugikan pengelola dapur.
“Kami merasa dirugikan atas opini yang beredar, tanpa mengkonfirmasi serta penanganan prosedur yang kami nilai janggal pasca kejadian, hingga munculnya pemberitaan yang menyudutkan kami. Padahal semua tindakan yang dilakukan sudah sesuai SOP sebagai sebuah Dapur SPPG. Kami telah membuat Laporan Khusus dan melakukan somasi beberapa pihak melalui Kuasa Hukum dan tindakan apa yang akan diambil selanjutnya,” ujar Fitriani, S.Pd, Mitra Dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama, Kota Dumai, Selasa (25/8/2026).
Fitriani mengaku merasa dipojokkan pemberitaan media online yang berulang-ulang sejak 10 Maret 2026 lalu. Ditengah pemberitaan tersebut, pihaknya juga mendapat tekanan pasca somasi dikirimkan Ormas Lingkar Pemuda Pemudi Dumai (LPPD) kepada pihak Polres Kota Dumai dengan statemen bahwa Dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama seakan tetap beroperasi. Tersirat juga mereka berhak menutup dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama secara permanen dengan tuntutan denda sekian miliar dan sekian tahun penjara.
“Ingat, Kami melaksanakan program pemerintah dan bukan pekerjaan main-main. Apapun yang kita lakukan di dapur ini mengikuti SOP. Kita bukan menjual nasi kaki lima yang belum ada prosedurnya. Saya merasa tidak nyaman cara-cara begini,” tandas Fitriani lagi.
Diungkapkan pula kejanggalan lainnya, indikasi keracunan yang disebutkan dalam berita seakan terjadi langsung setelah menikmati makanan. Faktanya, rentang waktu menu makanan dikonsumsi dengan efek yang ditimbulkan mencapai 13 jam, hal ini harus menjadi dasar perhatian juga. “Anak merasa ada reaksi perubahan di tubuhnya esok harinya atau lebih kurang 13 jam sejak dikonsumsi. Begitu pula pengambilan sampel untuk diperiksa dua hari pula setelah jadwal dikonsumsi. Cara begini juga sangat merugikan nama dapur kami,” beber Fitriani.
Hal ini diklarifikasi Fitriani, berdasarkan laporan PIC sekolah bahwa makanan tersebut dikonsumsi siswa pada pukul 13.00 WIB pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2026. Keluhan mulesnya perut diakui pada keesokan harinya, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 03.00 WIB. “Pada hari laporan tersebut, siswa yang mengaku terdampak masih tetap beraktivitas. Kami meminta data anak anak yang terkena efek tak kunjung diberikan. Kejelasan ini dibutuhkan, mengingat anak yang terkena efek diketahui pula ada yang mengabaikan minum obat dan permisi pulang karena air di sekolah dinilai kurang bagus,” jelas Fitriani.
Fitriani menilai ada pihak-pihak yang kurang senang dengan SPPG Sehat Sejahtera Bersama. Padahal selama dapur ditutup sementara menjalani masa Suspend, namun ada relawan relawan yang sukarela tanpa digaji tanpa disuruh tidak ada unsur paksaan mereka bergiliran datang melakukan cleaning walau tidak ada pendistribusian.
“Kami selalu diawasi dan bekerja profesional, baik itu Kepala SPPG, Mitra, KPPG, Koordinator dari Kecamatan, Koordinator Wilayah, hingga KPPG Provinsi. Hubungan kami sangat harmonis tanpa ada masalah,” pungkasnya sembari menambahkan, apapun permasalahannya kami selalu tetap berkoordinasi.
Terhadap pihak-pihak yang kurang senang dengan tetap beroperasionalnya dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama lanjut Fitriani, menjadi tuduhan seakan pihaknya mengabaikan prosedur. “Mereka tidak tau penghentian kegiatan di dapur atau pemberhentian pendistribusian seperti apa. Kita konsisten dengan mengikuti SOP. Mereka boleh mengetahui, tapi harus tau aturan main juga, jangan langsung main beritakan saja. Saya paling tidak suka dengan kata-kata selalu diuga tanpa klarifikasi, itu namanya Fitnah,” pungkasnya pula.
Sebagaimana Lapsus sebagai somasi yang dibuat mitra, Fitriani menjelaskan, dalam laporannya pasca kejadian di SMAN 2 Dumai yakni langsung mendatangi sekolah yang terdampak. Bahkan pihak dapur meminta dokter bertugas melakukan pengecekan dan mengobati siswa yang terdampak. Laboratorium Dinas Kesehatan juga turun melakukan pengecekan terhadap sampel. Adapun menu saat itu, adalah nasi putih, ayam woku, Tahu Saus, Tumis Kacang Panjang dan semangka.
Hal lain tak habis pikir oleh Fitriani, terkait hasil pengujian laboratorium oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang tak kunjung diperoleh. Selisih jam sejak menu dimasak dengan dikonsumsi oleh siswa dengan hari pengambilan sampel oleh Dinas Kesehatan Kota Dumai dinilai sangatlah tidak wajar. Sampel yang diperiksa dimasak hari Selasa Subuh, sedangkan sampel diambil pada Rabu sore dan dikirim lagi menuju Kota Pekanbaru. “Logikanya sampel sampai di Pekanbaru pada Rabu malam Kamis. Gimana kira-kira kondisi sampelnya? Itu pun belum tentu ketika sampel sampai langsung diuji pihak lab,” selidik Fitriani sembari menambahkan, tentu hasil uji Lab-nya akan sangat memburuk.
Tak habis pikirnya lagi, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Riau Dr Syartiwidya, SSTP, MSi datang mengunjungi dapur pada hari Jumat sekaligus ia menanyakan hasil Laboratorium. Sedangkan pihaknya hingga berita ini dituliskan belum mendapatkan hasil uji Lab dari Dinas Kesehatan Riau. “Agak susah juga saya menjelasinnya, karena hingga saat ini kami selaku Mitra maupun Kepala SPPG belum menerima hasil lab-nya,” tanya Fitriani.
Sementara itu, diketahui sebanyak 60 orang anak terdampak tersebut sesaat setelah kejadian masih eksis bisa melakukan aktivitas belajar bahkan latihan Paskib dan latihan menari Zapin di lapangan terbuka.
Berdasarkan laporan khusus dari SPPG Sehat Sejahtera Bersama yang diterima media ini, diketahui sebelumnya, pihak SPPG Sehat Sejahtera Bersama mendapat laporan pada Rabu, 05 Agustus 2026, terdapat informasi dari pihak sekolah mengenai adanya siswa yang mengalami keluhan berupa diare (mencret) setelah 9 jam mengonsumsi menu MBG pada hari Selasa, 04 Agustus 2026. Saat itu jumlah siswa yang mengalami keluhan masih dalam proses pendataan oleh pihak sekolah sehingga belum dapat dipastikan jumlah pasti siswa yang terdampak.
Berdasarkan informasi awal yang diperoleh, keluhan yang disampaikan berupa diare tanpa disertai muntah-muntah. Namun demikian, informasi tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan medis dan hasil investigasi. Penyebab keluhan belum dapat disimpulkan berasal dari menu MBG, karena masih diperlukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, penelusuran riwayat konsumsi siswa, serta hasil pemeriksaan kesehatan terhadap siswa yang mengalami keluhan.
Sebagai langkah tindak lanjut, pihak SPPG Sehat Sejahtera Bersama telah melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, menghadirkan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan terhadap siswa yang terdampak, serta berkoordinasi dengan Laboratorium Kesehatan untuk melakukan pengujian sampel makanan.
Data yang diterima, Penerima Manfaat untuk seluruh penerima manfaat berjumlah 3.156 dan untuk penerima manfaat di SMAN 2 Dumai berjumlah 1.324 penerima manfaat. Jumlah terdampak sekitar 60-an orang namun belum bisa dipastikan karena masih melakukan pendataan dari pihak sekolah.
Diketahui sebelumnya, sebuah media online yang intens memberitakan tersebut sudah empat kali menayangkan pemberitaan, namun tidak ada konfirmasi klarifikasi ke Dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama. Berita pertama pada 10 Maret 2026 dengan judul, “Buruknya Kualitas SPPG Sehat Sejahtera Bersama Diduga Mark Up Anggaran, Sajikan Makanan tidak Layak di Tengah Program Nasional”. Lalu berita kedua pada 6 Agustus 2026 dengan judul “Dugaan Keracunan Makanan Kembali Mencoreng Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Sehat Sejahtera Bersama Kota Dumai”. Pada berita ketiga pada 8 Agustus 2026 dengan judul, ‘Penghentian Sementara Pendistribusian MBG oleh SPPG Sehat Sejahtera Bersama Pasca Insiden Dugaan Keracunan di Dumai” dan Berita keempat pada 14 Agustus 2026 dengan judul, “Pasca Keracunan Puluhan Siswa SMAN 2 Dumai, SPPG Sehat Sejahtera Bersama tetap Distribusikan MBG, Diduga Langgar SOP Demi Keuntungan Anggaran”.
Lap : Vie







Komentar