Pekanbaru, Detaksatu : Ketua Masyarakat Kabupaten Bengkalis di Pekanbaru H. Aziun Asyaari. SH,MH, yang juga merupakan salah satu unsur Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau Provinsi Riau, menyayangkan pernyatan yang disampaikan Koordinator Umum Koalisi Mahasiswa Riau Peduli Demokrasi Ahmad Rinaldi Hasibuan yang mengatas namakan masyarakat Riau terkesan melarang kegiatan politik Anies Baswedan di Pekanbaru karena selalu membawa politik identitas.
Ini dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat Riau yang sudah hidup secara damai dan tentram,” kata Aziun.
Aziun yang juga Ketua LHMR menyayangkan sikap pernyataan Ahmad Rinaldi Hasibuan tersebut justru membawa kondisi yang sebelumnya baik menjadi tidak baik.
“Banyak tokoh Masyarakat Riau tidak ikut dalam politik, tapi mereka tidak buta politik, sehingga pernyataan di sampaikan tersebut mengatasnamakan masyarakat Riau yang menolak kehadiran Anis Baswedan justru tidak sesuai dengan tradisi orang melayu, yang selalu Memuliakan tamu dan mempunyai sifat suka Damai atau Toleransi.
Ia menambahkan, orang Melayu selalu menghargai orang lain, sebagaimana menghargai dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang melayu selalu terbuka dan berlapang dada. Setiap orang yang datang ke kampung halamannya selalu diberi pertolongan. Mereka beranggapan, orang tidak boleh tidur di jalan atau minum di sumur.
“Biar rumah sempit, tapi hati lapang”. Orang yang dapat menghargai orang lain adalah orang yang berhati mulia. Kebaikan hati akan meningkatkan harga atau martabat diri, sekaligus martabat kampung halamannya, cakap Aziun.
Aziun pun mengatakan akibat dari sifat toleransi ini, orang Melayu sangat senang bertolak ansur, dan tidak cerewet itu menyebabkan orang Melayu disegani para pendatang. Sifat ini juga menyebabkan orang Melayu suka mengalah, karena orang Melayu tidak mau ribut dan berselisih paham, yang akan menyebabkan harga dirinya luntur.
“Begitu juga dengan pola saling menghormati dan saling memberi yang terdapat di dalam masyarakat Melayu. Gejala tersebut tidak lepas dari nilai-nilai adat-istiadat Melayu yang membentuk karakter, serta perasaan-perasaan yang menyertai setiap tindakan yang tampak dalam pola saling menghormati dan saling memberi adalah salah satu gejala sosial. Artinya, kegiatan tersebut terjadi dalam situasi interaksi seseorang dengan orang lain atau pola saling menghormati dan saling memberi yang hidup dalam masyarakat Melayu tersebut dikenal dengan istilah menanam budi, menabur budi, atau membuat budi. Ketiga istilah tersebut mempunyai arti yang sama,” ungkapnya.
Untuk itu masyarakat Riau khususnya masyarakat melayu tidak melarang siapapun tamu yang datang sepanjang tidak bertentangan adat istiadat melayu yang bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah.
“Mari kita ciptakan suasana Riau yang lebih nyaman, kondusif,” pungkas Aziun Asyaari.
Lap : Vie











Komentar