oleh

Membangun Infrastruktur, Menguatkan Suprastruktur, Memartabatkan Kebudayaan Melayu

Oleh: Rais Hasan Piliang Dt. Bagindo Mudo, Ketua Umum Ikatan Keluarga Sungai Tapung (IKST) Provinsi Riau

Enam puluh sembilan tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah provinsi. Ia adalah perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat sejarah, perjuangan,
pengorbanan, perubahan, dan harapan jutaan masyarakat Riau. Pada momentum Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Riau, kita tentu patut bersyukur atas berbagai kemajuan yang telah dicapai. Jalan dan jembatan terus dibangun, kawasan perkotaan berkembang, investasi tumbuh, sumber daya alam dikelola, pendidikan bergerak maju, dan berbagai pusat pertumbuhan ekonomi baru bermunculan.

Tetapi ada satu pertanyaan penting yang harus kita renungkan : Apakah pembangunan Riau hari ini sudah benar-benar mencerminkan jati diri Riau sebagai negeri Melayu? Pertanyaan ini penting karena pembangunan tidak boleh hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah gedung yang berdiri, besarnya investasi yang masuk, atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan harus juga diukur dari seberapa kuat identitas masyarakatnya,
seberapa tinggi martabat kebudayaannya, seberapa baik kualitas manusianya, dan seberapa besar rasa keadilan yang dirasakan masyarakatnya.

MELAYU BUKAN SEKADAR SIMBOL
Melayu jangan dipahami hanya sebagai pakaian adat, tanjak, songket, rumah adat, atau ornamen pada gedung pemerintahan. Melayu adalah nilai kehidupan. Melayu memiliki falsafah tentang kesantunan, musyawarah, gotong royong, marwah, keseimbangan, penghormatan kepada orang tua dan pemimpin, serta hubungan manusia dengan alam.

Karena itu, ketika kita mengatakan “Riau adalah Bumi Melayu”, maka
konsekuensinya bukan sekadar menggunakan simbol Melayu dalam berbagai acara seremonial. Konsekuensinya adalah bagaimana nilai-nilai Melayu menjadi bagian dari arah
pembangunan Riau. Pembangunan harus senafas dengan kebudayaan. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama akhlak. Modernisasi harus berjalan bersama adat. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama keadilan. Pembangunan infrastruktur harus berjalan bersama pembangunan manusia.

INFRASTRUKTUR ADALAH TUBUH PEMBANGUNAN
Jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, jaringan internet, kawasan industri, fasilitas pendidikan, rumah sakit dan infrastruktur lainnya adalah tubuh dari pembangunan.

Tanpa infrastruktur, ekonomi sulit bergerak. Tanpa jalan yang baik, hasil pertanian sulit dipasarkan. Tanpa jembatan yang layak, mobilitas masyarakat terhambat. Tanpa konektivitas digital, masyarakat daerah akan semakin tertinggal.

Karena itu pembangunan infrastruktur harus terus dilakukan. Namun pembangunan infrastruktur juga harus menghadirkan keadilan antarwilayah.
Jangan sampai daerah yang menghasilkan sumber daya alam justru tertinggal dalam infrastruktur. Jangan sampai masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan hanya menjadi penonton pembangunan.
Riau harus dibangun dari kota hingga kampung, dari pesisir hingga pedalaman, dari kawasan industri hingga wilayah penghasil sumber daya alam. Tidak boleh ada Riau yang maju dan ada Riau yang tertinggal.

SUPRASTRUKTUR ADALAH OTAK PEMBANGUNAN
Di sisi lain, pembangunan tidak cukup hanya dengan membangun fisik. Kita membutuhkan suprastruktur yang kuat:
• pemerintahan yang bersih;
• birokrasi yang profesional;
• pendidikan yang berkualitas;
• penegakan hukum yang berkeadilan;
• kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat;
• lembaga adat yang hidup;
• institusi sosial yang kuat;
• serta generasi muda yang memiliki karakter dan kompetensi.

Gedung pemerintahan boleh megah.
Jalan boleh lebar. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jika manusianya kehilangan integritas, pembangunan tersebut kehilangan arah. Karena itu, pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik. Dan di sinilah nilai-nilai Melayu memiliki posisi yang sangat penting.

KEBUDAYAAN MELAYU HARUS MENJADI JIWA PEMBANGUNAN
Kita membutuhkan sebuah paradigma baru: Infrastruktur sebagai tubuh.
Suprastruktur sebagai pikiran.
Kebudayaan Melayu sebagai jiwa.
Ketiganya harus berjalan bersama.

Jika hanya membangun tubuh tanpa jiwa, kita akan menghasilkan pembangunan yang kering dari identitas. Jika hanya berbicara budaya tanpa membangun infrastruktur, kebudayaan akan kesulitan berkembang dalam kehidupan masyarakat modern. Jika membangun infrastruktur dan budaya tetapi mengabaikan suprastruktur, maka pembangunan kehilangan tata kelola dan arah. Karena itu Riau membutuhkan pembangunan yang utuh.

MELAYU HARUS HIDUP DI SEKOLAH
Kebudayaan Melayu tidak boleh hanya diajarkan sebagai mata pelajaran tambahan. Ia harus hadir dalam pembentukan karakter generasi muda.
Anak-anak Riau harus mengenal sejarah daerahnya.

Mereka harus mengetahui siapa leluhurnya. Mereka harus memahami adat dan tradisi masyarakatnya. Mereka harus mengenal sastra Melayu, pantun, gurindam, sejarah kerajaan Melayu, tokoh-tokoh Riau, dan berbagai warisan budaya yang membentuk identitas daerah ini.

Tetapi pada saat yang sama mereka harus menguasai teknologi, bahasa asing, ilmu pengetahuan, ekonomi digital dan kompetensi global. Menjadi Melayu tidak berarti menjadi tertinggal. Justru kita harus melahirkan generasi Melayu yang berakar kuat tetapi berpikir global. MELAYU HARUS HIDUP DALAM EKONOMI Kebudayaan juga harus memiliki nilai ekonomi. Kerajinan Melayu, kuliner Melayu, tenun, songket, batik, seni pertunjukan, musik, sastra, wisata budaya, ekonomi kreatif dan berbagai produk masyarakat harus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

Jangan biarkan kebudayaan hanya menjadi tontonan. Jadikan kebudayaan sebagai sumber penghidupan masyarakat. Desa-desa budaya harus berkembang. Pelaku UMKM budaya harus mendapatkan akses pembiayaan. Generasi muda harus diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas berbasis budaya. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

MELAYU HARUS HIDUP DALAM TATA KELOLA PEMERINTAHAN Nilai Melayu juga harus tercermin dalam pemerintahan.
Ada nilai musyawarah.
Ada nilai amanah.
Ada nilai marwah.
Ada nilai gotong royong.
Ada penghormatan terhadap masyarakat dan pemimpin.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan prinsip pemerintahan
modern. Karena itu, membangun Riau sebagai Bumi Melayu berarti membangun pemerintahan yang amanah, transparan, berintegritas dan dekat dengan rakyat.

DARI SUMBER DAYA ALAM MENUJU SUMBER DAYA MANUSIA
Riau selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam.
Minyak bumi, gas, kelapa sawit, kehutanan dan berbagai sumber daya lainnya telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian.

Namun kita tidak boleh selamanya bergantung pada sumber daya alam.
Sumber daya alam dapat habis.
Tetapi sumber daya manusia harus terus berkembang. Karena itu, hasil kekayaan alam harus menjadi modal untuk membangun manusia Riau. Kita harus mengubah paradigma: dari menjual sumber daya alam menjadi membangun sumber daya manusia. Dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi produktif. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Jangan biarkan kebudayaan hanya menjadi tontonan. Jadikan kebudayaan sebagai sumber penghidupan masyarakat. Desa-desa budaya harus berkembang. Pelaku UMKM budaya harus mendapatkan akses pembiayaan. Generasi muda harus diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas berbasis budaya. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

MELAYU HARUS HIDUP DALAM TATA KELOLA PEMERINTAHAN
Nilai Melayu juga harus tercermin dalam pemerintahan. Ada nilai musyawarah.
Ada nilai amanah.
Ada nilai marwah.
Ada nilai gotong royong.
Ada penghormatan terhadap masyarakat dan pemimpin.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan prinsip pemerintahan
modern. Karena itu, membangun Riau sebagai Bumi Melayu berarti membangun pemerintahan yang amanah, transparan, berintegritas dan dekat dengan rakyat.

DARI SUMBER DAYA ALAM MENUJU SUMBER DAYA MANUSIA
Riau selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam.
Minyak bumi, gas, kelapa sawit, kehutanan dan berbagai sumber daya lainnya telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian. Namun kita tidak boleh selamanya bergantung pada sumber daya alam. Sumber daya alam dapat habis. Tetapi sumber daya manusia harus terus berkembang. Karena itu, hasil kekayaan alam harus menjadi modal untuk membangun manusia Riau. Kita harus mengubah paradigma: dari menjual sumber daya alam menjadi membangun sumber daya manusia. Dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi produktif. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari masyarakat penerima manfaat menjadi masyarakat yang mampu menciptakan manfaat.

RIAU 69 TAHUN: SAATNYA MEMBANGUN DENGAN IDENTITAS
HUT ke-69 Provinsi Riau seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum ini harus menjadi ruang untuk melakukan refleksi: Riau mau menjadi apa dalam 20, 30, bahkan 50 tahun ke depan? Kita ingin Riau menjadi provinsi yang maju. Tetapi kemajuan itu harus memiliki identitas. Kita ingin Riau menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan itu harus memberikan keadilan. Kita ingin Riau memiliki infrastruktur modern. Tetapi pembangunan tersebut harus menjangkau seluruh masyarakat. Kita ingin generasi muda Riau bersaing di tingkat nasional dan internasional. Tetapi mereka tidak boleh kehilangan akar budayanya.

Inilah Riau yang kita cita-citakan.
Riau yang modern tetapi tetap Melayu.
Riau yang maju tetapi tetap beradat.
Riau yang kaya tetapi adil. Riau yang kuat ekonominya tetapi kuat pula manusianya. Riau yang memiliki jalan dan jembatan yang baik, sekaligus memiliki pendidikan, kebudayaan, hukum dan pemerintahan yang bermartabat.

PENUTUP: MEMBANGUN RIAU DENGAN MARWAH
Enam puluh sembilan tahun perjalanan Riau adalah modal sejarah yang sangat besar.
Kini saatnya kita memasuki babak baru. Bukan sekadar membangun Riau, tetapi
membangun Riau dengan jati diri. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi
memastikan pertumbuhan itu memberikan kesejahteraan. Bukan sekadar membangun fisik, tetapi membangun manusia. Bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan. Karena sejatinya:
Infrastruktur adalah tubuh pembangunan.
Suprastruktur adalah pikiran pembangunan. Kebudayaan Melayu adalah jiwa pembangunan.

Ketiganya harus senafas, sejalan dan seimbang. Maka pada usia ke-69 ini, mari kita jadikan Riau bukan hanya sebagai provinsi yang kaya sumber daya alam, tetapi sebagai negeri yang kaya martabat, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan manusia-manusia unggul. Selamat Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Riau. Dirgahayu Riau. Riau maju, Melayu bermarwah. Dari Melayu, untuk Riau. Dari Riau, untuk Indonesia.

IKATAN KELUARGA SUNGAI TAPUNG (IKST) PROVINSI RIAU

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *