oleh

Jejak Panjang Zulmiron, Penerima PCNO, di Ruang Redaksi

Tidak semua wartawan diingat karena liputan besar. Sebagian justru dikenang karena standar kerjanya. Ukuran itulah yang dipakai Zulmiron berpuluh tahun di ruang redaksi. Kini ia menerima Pers Card Number One (PCNO), satu-satunya dari Riau.

Tidak semua pengakuan dalam profesi pers lahir dari satu liputan besar. Sebagian justru diberikan kepada mereka yang menempuh jarak panjang secara konsisten. Bekerja di balik meja redaksi, menyunting naskah, memeriksa ulang data, dan menjaga standar ketika tekanan datang dari berbagai arah. Persatuan Wartawan Indonesia memberi bentuk pengakuan semacam itu melalui Pers Card Number One (PCNO), kartu kehormatan bagi wartawan yang dinilai matang, aktif, dan teruji oleh waktu.

PCNO memang bukan penghargaan atas satu momentum, melainkan akumulasi praktik profesional. Ia tidak mengukur seberapa keras sebuah liputan menggema, tetapi seberapa lama disiplin dijaga. Karena itu, nama-nama yang masuk dalam kategori ini umumnya bukan lagi figur yang sering tampil di panggung. Mereka adalah profesional kawakan yang sudah menghabiskan waktu puluhan tahun di lapangan. Trus, “berkelana” di ruang sunyi menentukan mutu berita, dan arah liputan.

Pada peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Banten, 9 Februari lalu, nama Zulmiron masuk sebagai penerima PCNO bersama belasan wartawan senior lain. Mereka adalah Drs. Sihono, HT, M.Si (DI Yogyakarta), Idris Pasaribu (Sumatera Utara), Media Sucahya (Banten), Saibansah Dardani (Kepulauan Riau), H. Denny Risman, SSos (Kepulauan Riau), Dr. Merson Simbolon, AMd, SE, MBA, M.Si (Sulawesi Utara), Zulmiron (Riau), Setiawan Hendra Kelana (Jawa Tengah), Ahmad Ris Edianto (Jawa Tengah), Agus Toto Widiyatmoko (Jawa Tengah), Wisnu Setiadji (Jawa Tengah), Bagus Sudarmanto (DKI Jakarta), dan Drs. H. Johny Handjojo (DKI Jakarta).

Dari Riau, Zulmiron menjadi satu-satunya wartawan dalam deretan penerima PCNO. Lahir di Pekanbaru, 9 Agustus 1970, karier jurnalistik Zulmiron tumbuh melalui jalur kerja redaksional yang relatif klasik, bukan dari panggung liputan sensasional. Tetapi dari meja penyuntingan. Tahun 2001 ia bergabung dengan Harian Pagi Jambi Ekspres sebagai redaktur. Fase ini kerap ia sebut sebagai masa pembentukan disiplin dasar: mengenali struktur berita, menguji kelayakan sumber, dan mengambil keputusan editorial di bawah tekanan tenggat.

Di ruang redaksi daerah pada masa itu, relasi personal dengan tokoh lokal masih sangat kuat mempengaruhi arus informasi. Wartawan dan narasumber selalu berada dalam jarak sosial yang dekat. Dalam situasi seperti itu, menjaga jarak profesional bukan perkara teoritis, melainkan praktik harian. Ia dikenal sebagai redaktur yang cenderung ketat pada naskah dan tidak mudah meloloskan klaim tanpa konfirmasi pembanding. Kebiasaan ini membentuk reputasinya sejak awal: tidak cepat puas pada satu sumber dan tidak tergesa menyimpulkan.

Rutinitas redaksi, seperti memeriksa judul, merapikan lead, memastikan kutipan akurat, mungkin terlihat teknis, tetapi justru di situlah fondasi mutu berita dibangun. Zulmiron tumbuh dalam kultur kerja semacam itu. Ia memandang penyuntingan bukan sekadar memperbaiki bahasa, melainkan menjaga makna agar tidak melenceng.

Tahun 2003 ia melangkah ke Jakarta dan bergabung dengan Harian Pagi Indopos sebagai Redaktur Ekonomi dan Bisnis. Perpindahan ini memperluas lanskap liputannya. Isu ekonomi dan bisnis mempertemukannya dengan data korporasi, kepentingan komersial, dan strategi pencitraan. Ia melihat dari dekat bagaimana informasi dapat dibingkai untuk kepentingan tertentu, dan bagaimana redaksi harus bekerja ekstra untuk menjaga proporsi serta pemisahan antara informasi dan promosi.

Dalam fase inilah terjadi satu pengalaman yang kemudian sering dirujuk kolega-koleganya ketika membicarakan standar etiknya. Seusai sebuah berita promosi produk terbit, ia diundang bertemu pihak perusahaan dan ditawari sejumlah uang sebagai bentuk apresiasi. Ia memilih menolak. Penolakan itu sempat menimbulkan ketegangan, tetapi berakhir dengan saling memahami posisi masing-masing. Peristiwa tersebut tidak ia posisikan sebagai heroisme, melainkan sebagai batas kerja yang menurutnya memang seharusnya jelas dalam relasi pers dan sumber berita.

Setelah itu ia kembali memperkuat peran redaksional di Jambi Ekspres hingga 2006, pada masa ketika media mulai berhadapan dengan pergeseran kecepatan informasi dan awal penetrasi digital. Redaksi mulai merasakan perubahan ritme. Berita dituntut lebih cepat, pembaca berubah pola konsumsi, dan kedalaman sering terancam oleh kecepatan. Dalam situasi itu, peran penyunting menjadi semakin penting sebagai penapis akhir sebelum informasi sampai ke publik.

Selepas fase tersebut, Zulmiron dipercaya memimpin redaksi Kerinci Pos. Kemudian Harian Info Rakyat. Memimpin media regional memberinya pengalaman mengelola agenda redaksi di lingkungan yang lebih dekat secara sosial dengan narasumber. Dalam konteks lokal, tekanan tidak selalu datang dalam bentuk intervensi langsung, tetapi bisa berupa kedekatan relasi dan ekspektasi personal. Ia memilih memposisikan media sebagai ruang publik. Bukan perpanjangan komunikasi pihak tertentu meskipun pilihan itu tidak selalu menjadi opsi paling nyaman.

Memasuki dekade 2010-an, kariernya berlanjut di Riau melalui Harian Pagi Metro Riau. Ia bertugas sebagai redaktur, lalu Redaktur Pelaksana. Tanggung jawabnya mencakup pengendalian mutu isi, koordinasi desk, dan konsistensi garis editorial. Rekan kerja menggambarkannya sebagai pengelola redaksi yang tidak banyak retorika, tetapi detail pada substansi. Ia membaca naskah secara utuh, memberi catatan presisi, dan menekankan verifikasi berlapis terutama pada berita yang menyangkut kepentingan publik.

Gaya kepemimpinannya cenderung dialogis. Zulmiron tidak dikenal sebagai figur yang memimpin dengan tekanan suara melainkan dengan standar kerja. Reporter muda sering mendapat pertanyaan yang sama darinya sebelum berita naik tayang: apakah data sudah diuji silang, apakah pihak yang disebut sudah dimintai konfirmasi, apakah konteks sudah cukup. Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semacam checklist informal yang membentuk kultur kerja tim.

Selain mengelola redaksi, pada 2002–2004 ia juga aktif memberikan pelatihan jurnalistik di Jambi. Materi yang dibagikan mencakup teknik reportase, penyusunan berita, serta dilema etika lapangan. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar jurnalis bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi menjaga independensi saat informasi datang bersama kepentingan. Pengalaman lapangan, menurut Zulmiron, perlu dibagikan agar jurnalis muda tidak belajar hanya dari kesalahan sendiri.

“Semakin banyak kita berbagi kisah dan cerita, semakin mengalir ilmu. Para pemula pun merasa senang karena mereka memiliki panduan dalam berinvestigasi. Apalagi kalau kita bagikan cerita-cerita unik, lucu dan heroik, pasti pemula senang mendengarnya,” kata Zulmiron kepada berazam sambil menyerumput kopi di Arifin Ahmad Pekanbaru, Sabtu sore.

Secara profesional, Zulmiron memegang sertifikat Uji Kompetensi Wartawan tingkat Utama dari Dewan Pers. Sertifikasi dan keanggotaan ini memperkuat legitimasi formalnya, tetapi penilaian kolega terhadap lelaki yang akrab disapa Miron ini, lebih banyak bertumpu pada konsistensi praktik kerja sehari-hari: ketelitian menyunting, kehati-hatian memilih diksi, dan disiplin memeriksa ulang.

Kini, sebagai Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Hariantimes.com, ia bekerja dalam ekosistem media digital yang menuntut kecepatan sekaligus ketahanan verifikasi. Zulmiron memandang perubahan platform sebagai keniscayaan, tetapi tidak melihat alasan untuk menurunkan standar. Dalam pengelolaan redaksi digital, ia tetap menempatkan akurasi dan keseimbangan sebagai prioritas, meskipun persaingan trafik dan algoritma semakin kuat. Baginya, teknologi mengubah cara distribusi, bukan prinsip kerja jurnalistik.

Di mata kolega, Zulmiron kerap dipandang sebagai figur penyeimbang di tengah tekanan pragmatis media yang semakin kuat. Ia tidak membangun pengaruh melalui retorika, tetapi melalui kebiasaan kerja yang konsisten. Dalam situasi ketika ruang redaksi sering ditarik oleh kepentingan trafik, kedekatan sumber, atau tekanan relasi, ia cenderung kembali ke prosedur: cek ulang, konfirmasi, jaga proporsi. Rekan-rekan se-profesi melihat sikap itu bukan sebagai kekakuan, melainkan sebagai jangkar editorial, atau cara menjaga agar keputusan redaksi tetap berbasis pertimbangan profesional, bukan dorongan sesaat. Ia tidak menempatkan diri sebagai simbol moral, tetapi sebagai pekerja redaksi yang memastikan rel kerja tetap lurus ketika laju berita makin cepat.

“Kalau prosedur dilewati sekali saja karena alasan praktis, besok akan lebih mudah dilewati lagi,” ujar Zulmiron dengan nada serius. “Tugas redaksi itu bukan membuat berita cepat terbit, tapi membuatnya layak dipercaya,” tambah pentolan Serikat Media Siber Indonesia Riau ini.

Pandangan itu memperlihatkan bagaimana ia menempatkan disiplin sebagai pagar, bukan beban. Di tengah perubahan model bisnis media dan percepatan distribusi digital, ia melihat verifikasi dan keseimbangan bukan sebagai penghambat, melainkan fondasi. Karena itu, pengakuan seperti PCNO dalam konteks perjalanannya lebih tepat dibaca sebagai penanda ketahanan praktik, bukan sekadar penghargaan personal. Jejak panjang di ruang redaksi itu pada akhirnya menjadi ukuran kerja yang paling nyata, meskipun tidak selalu terlihat di permukaan. Yang dinilai bukan hanya hasil akhir yang terbit, tetapi cara sebuah berita diproses sebelum sampai ke publik. Pada titik inilah pengalaman personal seorang wartawan bertemu dengan prinsip dasar profesi bahwa mutu jurnalisme ditentukan oleh metode, bukan semata momentum.

Prinsip kerja semacam ini sejalan dengan rumusan klasik etika pers yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Jurnalis Senior Amerika, dalam The Elements of Journalism: “The essence of journalism is a discipline of verification.” Inti jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Dalam praktiknya, disiplin itu jarang tampak sebagai peristiwa besar. Ia hidup dalam rutinitas yang berulang dan sering tidak terlihat.

Dalam konteks itulah pengusulan PCNO kepada Zulmiron menemukan relevansinya. Bukan sebagai selebrasi personal, tetapi sebagai penanda bahwa ketekunan menjaga prosedur masih diakui sebagai nilai inti profesi. Jejak panjang di ruang redaksi, yang dipenuhi keputusan-keputusan kecil namun konsisten, pada akhirnya menjadi fondasi kepercayaan. Dari fondasi itulah Zulmiron membangun mutu jurnalisme berpuluh-puluh tahun. Selamat atas PCNO, Miron. Semoga tetap setia pada standar yang sudah dijaga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *