PEKANBARU, DETAKSATU.COM – Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus diwarnai dengan suka cita rakyat Indonesia, euforia yang hadir mengingat pada keberhasilan dan kemenangan pahlawan dalam melawan penjajah menjadi sebuah kebanggaan sekaligus moment haru, mengingat kembali banyaknya pahlawan Indonesia yang gugur di medan pertempuran demi berjuang untuk kemerdekaan negeri ini.
Begitu banyak pahlawan di negara ini yang berjuang untuk memerdekakan Indonesia contohnya Ir Soekarno HOS Cokroaminoto Si Singamangaradja XII, Jendral Soedirman, Teungku Chik Ditiro dan Sultan Syarif Kasim II.
Tak lupa pula tokoh Pahlawan Riau Sultan Siak Sri Indrapura yang dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin (Sultan Syarif Kasim II), Sultan Ke-12 dari Kerajaan Siak Sri Indrapura lahir pada 11 Jumadil Awal 1310 H atau 1 Desember Tahun 1893.
Di tengah masyarakat Riau merayakan hari Kemerdekaan 17 Agustus Pemerintah Republik Indonesia menyatakan akan menaikan harga Bahan Bakar Minyak jenis Solar, Pertalite dan Pertamax.
Pemerintah menaikkan harga BBM di dasari oleh 3 hal, yaitu melonjaknya harga minyak dunia, besarnya angka subsidi energi dan harga minyak mentah Indonesia yang tinggi.
Pada tahun 2020 minyak dunia di harga US$ 41.96/ barel, US$ 70.68/barel di tahun 2021 lalu US$ 107.64 di tahun 2022.
Subsidi energi pada awal tahun sebesar Rp. 152,5 T yang kemudian di revisi menjadi Rp. 502,4 T, hal ini membuat APBN 2022 membengkak.
Kemudian harga minyak mentah Indonesia pada Februari 2022 di angka US$ 95.72/barel yang kemudian naik menjadi US$ 117.62/barel pada bulan Juni 2022.
“Melihat harga minyak mentah Indonesia turun pada Januari 2020 sebesar US$ 65.38/barel menjadi US$ 38.07/barel pada Oktober 2020, Pemerintah juga tetap mengedarkan harga yang sama terhadap masyarakat bukan malah menurunkan harga. Jelas, ini menjadi acuan untuk penolakan kenaikan harga BBM.” ujar Syabrinur Fadilah selaku Ketua Umum SEMMI Kota Pekanbaru.
Jika harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar dinaikkan maka akan mempengaruhi beberapa hal di kehidupan masyarakat.
Pertama, meningkatnya pengeluaran masyarakat terhadap bahan bakar minyak yang sekarang menjadi kebutuhan primer.
Kedua, meningkatnya harga bahan-bahan pokok yang membuat kantong masyarakat menjerit.
Ketiga, ini adalah hal yang paling krusial yaitu memerburuk keadaan ekonomi masyarakat yang belum pulih pasca pandemi Covid-19.
Upaya Pemerintah dalam menanggulangi kenaikan harga BBM dengan memberikan Bantuan Langsung Tnuai (BLT) dianggap nyeleneh dan tidak berkaca pada kejadian lalu.
BLT yang akan diberikan kepada 20,65 juta keluarga penerima dengan besaran Rp. 600.00 yang diberikan secara bertahap dengan total anggaran mencapai Rp. 12,4 T.
Kemudian Pemerintah juga akan memberikan bantuan kepada 16 juta pekerja yang memiliki gaji dibawah Rp. 3,5 juta perbulan dengan bantuan yang sama sebesar Rp. 600.000 dengan total anggaran Rp. 9,6 T. (Laporan Editor/Rls SEMMI)







Komentar