Pekanbaru, detaksatu : PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo menyatakan bahwa kemitraan dengan petani merupakan kunci dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi nasional.
“Peningkatan produktivitas sawit nasional menjadi salah satu tugas utama kita di hulu dan salah satu upaya yang kami lakukan adalah dengan meningkatkan hubungan kemitraan dengan para petani,” ujar Direktur SDM dan Umum PTPN IV PalmCo Suhendri saat menjadi pembicara pada seminar Sawit Indonesia Expo 2026 di SKA Convention and Exhibition Pekanbaru, Kamis hari ini (6/8/2026).
Ia mengatakan bahwa PTPN IV PalmCo secara intensif dan berkelanjutan melangsungkan kemitraan sebagai bagian mendukung program pemerintah dalam memangkas ketimpangan produktivitas sawit petani dan perusahaan.
“PTPN IV Palmco intens untuk melaksanakan program kemitraan, karena bagi Palmco jika produktivitas dan produksi petani meningkat maka program ketahanan pangan dan ketahanan energi semakin mudah untuk direalisasikan. Sebagai BUMN yang menjalankan tugas dari pemerintah tentunya kita senang hal ini dapat diwujudkan. Sejarah kemitraan palmco dengan petani selama ini juga cukup baik dan memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak,” jelas pria berkacamata tersebut.
Sawit Indonesia Expo sendiri merupakan salah satu pameran dan konferensi kelapa sawit terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku industri hulu hingga hilir, mulai dari perusahaan perkebunan, petani swadaya, penyedia teknologi mesin, hingga pemerintah.
Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti ratusan pelaku industri sawit dan dibuka langsung oleh Plt Gubernur Riau SF Hariyanto serta berlangsung selama tiga hari ke depan, 6-8 Agustus 2026.
Dalam kegiatan yang turut menghadirkan pembicara ahli di bidangnya, seperti Dr Gusti Gultom Akademisi IPB University dan Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit Instiper Yogyakarta Dr Purwadi tersebut, ia menjelaskan saat ini sekitar 6,9 juta hektare atau mayoritas areal perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani.
Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat menjadi faktor penentu dalam menjaga pasokan bahan baku industri hilir sekaligus memenuhi kebutuhan energi melalui program biodiesel B50.
Menurut Suhendri, peningkatan produktivitas sebesar 1,3 ton CPO per hektare di perkebunan rakyat berpotensi menambah produksi nasional hingga sekitar 8,97 juta ton CPO. Tambahan produksi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memenuhi kebutuhan domestik tanpa mengganggu keberlanjutan ekspor.
Untuk itu, PalmCo menjalankan strategi penguatan hulu melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan benih unggul, akses pembiayaan, pendampingan teknis, hingga kepastian pasar bagi petani mitra.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memastikan ketersediaan feedstock bagi industri hilir sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Suhendri mengatakan PalmCo mengembangkan lima program utama kemitraan petani, yakni penyediaan benih unggul dan peremajaan sawit, pendampingan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas, akses pembiayaan dan sarana produksi, kepastian penyerapan tandan buah segar (TBS) dengan sistem grading yang transparan, serta penguatan koperasi dan sistem ketertelusuran (traceability).
Hingga Mei 2026, kemitraan sawit rakyat PalmCo telah mencapai 52.480 hektare yang terdiri atas program revitalisasi perkebunan, konversi karet ke sawit, dan PSR yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Roadmap perusahaan menargetkan luasan kemitraan terus bertambah hingga 64.176 hektare pada 2029.
Suhendri menambahkan sejumlah program kemitraan telah menunjukkan hasil nyata. Pada beberapa koperasi binaan di Kabupaten Rokan Hulu, produktivitas kebun mampu mencapai lebih dari 20 ton per hektare dengan peningkatan sisa hasil usaha (SHU) petani dan penguatan kelembagaan koperasi.
Menurut dia, kemitraan PalmCo tidak berhenti pada transaksi pembelian TBS, tetapi diarahkan membangun ekosistem usaha yang membuat petani lebih produktif, koperasi semakin kuat, dan pembiayaan semakin mudah diakses.
“PalmCo menjawab kebutuhan domestik dan ekspor bukan dengan memilih salah satunya, tetapi dengan memperkuat ekosistem melalui peningkatan produktivitas, percepatan hilirisasi, dan kemitraan petani,” ujarnya.
Selain memperkuat kemitraan, PalmCo juga menyiapkan pengembangan industri hilir berupa biodiesel, minyak goreng, shortening, cocoa butter substitutes (CBS), hingga compressed biomethane gas (CBG) yang akan didukung pasokan bahan baku dari kebun inti maupun petani mitra.
Dengan strategi tersebut, perusahaan menargetkan terciptanya rantai pasok sawit nasional yang mampu menopang ketahanan pangan dan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Lap : Vie











Komentar