Pekanbaru, detaksatu : Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII Riau dan Kepulauan Riau, Dr H Nopriadi, SKM, MKes, membekali mahasiswa baru Institut Kesehatan & Teknologi Al Insyirah (IKTA) dengan kemampuan menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pembekalan tersebut disampaikan Nopriadi saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) IKTA di Aula IKTA, Senin (14/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Nopriadi membawakan materi bertajuk “Mengembangkan Jiwa Inovatif dan Mentalitas Unggul Mahasiswa IKTA 2026”.
Nopriadi mengatakan, perkembangan AI membawa perubahan dalam dunia pendidikan tinggi. Karena itu, mahasiswa perlu memahami teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir dan keterampilan manusia yang menjadi dasar dalam proses pembelajaran.
“Teknologi sekadar membantu, namun otak manusia tetap yang memimpin,” kata Nopriadi di hadapan mahasiswa baru IKTA.
Menurut Nopriadi, terdapat lima kemampuan yang perlu diperkuat mahasiswa dalam menghadapi perkembangan AI.
Pertama, literasi AI. Mahasiswa perlu memahami cara kerja dan keterbatasan AI, termasuk risiko bias, persoalan privasi, serta aspek etika dalam penggunaannya.
Kedua, keterampilan manusia atau human skills, seperti komunikasi, empati, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah. Keterampilan tersebut tetap dibutuhkan meskipun teknologi AI berkembang semakin pesat.
Ketiga, integritas akademik. Nopriadi mengingatkan mahasiswa untuk menghindari plagiarisme, fabrikasi data, maupun manipulasi karya dengan memanfaatkan AI.
Keempat, berpikir kritis atau critical thinking. Mahasiswa diminta membiasakan diri memeriksa, membandingkan, memverifikasi, dan menyimpulkan informasi sebelum menggunakannya.
Kelima, berpikir kreatif. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari ide atau melakukan brainstorming, tetapi keputusan akhir tetap harus berada pada manusia.
Nopriadi juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas akademik.
Dia menyoroti kebiasaan menggunakan AI dengan pola “AI, copy, paste, submit” yang berpotensi mengurangi proses berpikir mahasiswa.
Menurutnya, penggunaan teknologi secara berlebihan tanpa proses analisis dapat menyebabkan cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi.
Karena itu, Nopriadi mendorong mahasiswa menggunakan AI secara proporsional dengan tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan etika.
“Jangan berlomba menjadi yang tercepat menghasilkan jawaban dengan AI. Jadilah yang paling mampu menentukan pertanyaan yang tepat,” ujarnya.
Nopriadi merumuskan pendekatan yang perlu diterapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan teknologi, yakni AI + critical thinking + creativity + ethics sebagai kombinasi untuk membangun mahasiswa yang siap menghadapi masa depan.
Dia juga meminta mahasiswa IKTA memanfaatkan masa pendidikan tinggi untuk membangun kapasitas, mengembangkan inovasi, dan meningkatkan kemampuan profesional.
“Mulai perjalanan. Bangun kapasitas. Ciptakan inovasi. Jadilah bagian dari solusi,” pesan Nopriadi.
Melalui pembekalan tersebut, LLDIKTI Wilayah XVII mendorong mahasiswa baru IKTA tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Kemampuan tersebut dinilai penting bagi mahasiswa IKTA yang dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan dan profesional di bidang teknologi yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta memiliki integritas dalam menjalankan profesinya.
Lap : Vie










Komentar