Pekanbaru, Detaksatu.com : Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPW PPP Riau, Ahmad Saukinur, membantah keras tudingan bahwa Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) PPP Riau pada 23 Juni 2025 tidak memenuhi kuorum. Ia menyebut pernyataan Sekretaris DPC PPP Pelalawan, Dwi Surya Pamungkas, sebagai disinformasi yang menyesatkan publik.
Ahmad Saukinur menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima konfirmasi kehadiran dari 9 Ketua DPC dan 1 Sekretaris DPC dari Kuantan Singingi (Kuansing) sebelum Muswilub. Konfirmasi tersebut, kata Ahmad, didapatkan melalui komunikasi pribadi, baik oleh dirinya maupun kader PPP lainnya seperti Ketua DPC PPP Bengkalis, Rahmad Dona.
“Ketua DPC Rokan Hulu, Sekretaris Siak, Sekretaris Pelalawan, dan Ketua DPC Inhu sudah berada di Pekanbaru. Mereka sempat makan siang di Sinar Kampar, Jalan Arifin Achmad bersama salah satu Ketua DPC yang juga hadir di acara Muswilub. Kami punya foto dan dokumentasinya,” tegas Ahmad pada Rabu (26/6/2025).
Ahmad menambahkan bahwa salah satu Ketua DPC yang juga anggota DPRD bahkan menerima telepon langsung dari Sekjen DPP PPP, yang diakui langsung oleh yang bersangkutan kepada peserta Muswilub. Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa pihak yang tadinya berencana hadir, mundur karena tekanan.
“Faktanya, mereka ada di Pekanbaru. Tapi tiba-tiba mundur karena ada tekanan. Itu bukan berarti tidak hadir atau tidak terlibat. Bahkan Ketua DPC Inhil mengaku sedang sakit di Tembilahan. Namun beliau menyatakan persetujuannya dan mengutus dua orang sebagai perwakilan. Saya dengar langsung dan rekamannya ada,” ujarnya.
Ahmad juga menanggapi klaim Dwi Surya Pamungkas yang menyatakan bahwa 7 DPC hanya ‘ngopi bareng’ sepanjang hari dan tidak mengikuti Muswilub. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah kebohongan dan tidak berdasar.
“Itu jelas bohong. Ketua DPC Kuansing saat itu sedang di Jambi, Kampar juga tidak terlihat, Inhil di Tembilahan, dan Ketua Pelalawan tak bisa dihubungi sampai sekarang. Lalu yang diajak ‘ngopi’ itu siapa? Jangan lempar isu tanpa fakta,” kritiknya.
Ahmad Syaukinur, yang akrab disapa Oki, mengkritik gaya komunikasi sepihak yang dilontarkan beberapa kader dan menyarankan agar semua pihak bercermin terlebih dahulu sebelum menuding pihak lain. “Selalu ada yang menunjuk dengan satu jari, tapi lupa empat jari lainnya mengarah pada diri sendiri. Muswilub ini sudah sesuai aturan, dilandasi surat tugas DPP, dan dihadiri oleh DPC yang sah. Jangan karena ambisi pribadi lalu membuat gaduh partai,” pungkas Ahmad.
Senada dengan Ahmad, Wakil Ketua DPW PPP Riau, Irsyadul Ibad, juga meminta semua pihak untuk tidak memperkeruh suasana, apalagi menyebut Wakil Ketua Umum PPP Rusli Effendi berbohong saat menyatakan Muswilub kuorum.
Oki juga menekankan bahwa Muswilub yang mereka laksanakan merupakan upaya untuk menegakkan wibawa DPP dan Plt Ketua Umum Mardiono. Ia menyebut Rusli Effendi, T Amri, Dedi Putra, dan Rahmad Dhona sebagai sosok-sosok yang ditunjuk untuk melaksanakan perintah partai dan berjuang menegakkan wibawa partai serta Plt Ketua Umum.
Ia membandingkan kondisi di Riau dengan Muswilub yang juga dilakukan di Kalimantan Selatan, di mana surat mandatnya ditandatangani oleh Wakil Sekjen namun tidak menimbulkan keributan. Oki bahkan menyatakan bahwa Sekjen DPP, Arwani, akhir-akhir ini lebih memberikan perhatian kepada Riau, yang menimbulkan rasa bangga sekaligus kecurigaan di kalangan pengurus PPP Riau. Ia juga menyoroti banyaknya pengurus PPP di daerah yang “nasab”-nya di PPP tidak jelas, tidak mengerti bagaimana menyikapi perintah dari pimpinan tertinggi maupun dari pimpinan di bawahnya.
Sebelumnya, Sekretaris DPC PPP Pelalawan, Dwi Surya Pamungkas, menuding Rusli Effendi telah menyebarkan hoaks dalam berpolitik. “Kalau Rusli Effendi selaku perwakilan ketua umum Mardiono jujur, ia akan mengatakan muswilub tidak kuorum, karena yang datang ke Muswilub cuma 5 DPC dari 12 DPC PPP se-Provinsi Riau,” tegas Dwi pada Selasa (24/6/2025) yang lalu.
Dwi menduga klaim yang disampaikan Wakil Ketua Umum PPP itu bertentangan dengan gaya politik partai sayap kanan yang kental dengan denyut nadi politik ulama dan santri. “Kalau narasi di video beliau mengatakan ada 10 DPC, sama saja beliau memunafikan hatinya sendiri karena banyak saksi yang akan menguatkan bahwa cuma ada 5 DPC yang hadir,” ungkap Dwi, rls
Lap : Vie










Komentar