Oleh : Dr. Moris Adidi Yogia, M.Si
Dosen dan pengamat Politik Pemerintahan
Kepemimpinan sangat identik dengan kekuatan, sosok seorang yang memimpin pasukan untuk jadi pemenang, mengarahkan organisasi menuju puncak kesuksesan atau membentuk visi sebuah organisasi. Keberanian dan kepandaian pemimpin menjadi inti cerita yang melegenda. Maka dunia pun mengenal sosok pemimpin seperti Aleksander Agung, Julius Caesar sebagai panglima perang yang banyak menaklukkan musuh. Dunia pun mengenal sosok Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin yang berhasil menyentuh hati jutaan manusia.
Regenerasi adalah salah satu upaya kaderisasi dalam menyiapkan pemimpin terbaik yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Regenerasi kepemimpinan merupakan keniscayaan dalam sebuah sistem organisasi. Prinsip yang dipegang dalam regenerasi kepemimpinan adalah “Pemimpin hebat akan melahirkan pemimpin hebat”. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang dapat mengayomi anggota dengan berbagai latar belakang, termasuk anggota dari beragam usia.
Partai Golkar sebagai sebuah organisasi politik di Indonesia telah melahirkan banyak tokoh atau pemimpin yang mumpuni. Demikian juga di Riau yang seakan-akan mengidentikkan diri sebagai basis “KUNING” sebagai warna kebesaran partai Golkar. Tahun 2024 merupakan sebuah kejutan besar dalam konstalasi kontestasi baik pemilihan legislative atau pemilihan kepala daerah di Provinsi Riau. Hilangnya kursi ketua DPRD Provinsi Riau yang selama ini menjadi “jatah pasti” partai Golkar dan kalahnya beberapa pasangan calon kepala daerah yang diusung oleh Partai Golkar (hanya menang di 2 kabupaten yaitu Indragiri Hilir dan Siak). Menjadi mengenaskan Ketika pasangan calon yang kalah juga merupakan ketua Partai Golkar di wilayah yang diamanahkannya.
Kondisi ini menimbulkan gonjang ganjing dan keresahan dibeberapa tokoh Golkar Riau, baik tokoh senior atau tokoh yang selama ini memang hadir untuk mengurus partai ini. Polemik ini dipandang sebagai tidak cakapnya kepemimpinan Partai Golkar Provinsi Riau dalam memimpin organisasi ini, sehingga menjadikan Partai Golkar dalam kondisi seperti yang terjadi saat ini. Sebagai Partai yang sudah matang dengan segala gelombang dan juga riak yang terjadi di negeri ini, tentu sikap sikap yang terjadi dalam unsur internal dan eksternal harus menjadi pertimbangan Partai Golkar untuk melangkah kedepan. Partai Golkar harus melahirkan pemimpin yang mampu membawa armada besar ini menjadi pemenang Kembali, bukan sekedar medioker atau follower yang memperlihatkan sisi lemah dari sebuah kepemimpinan. Kita memahami bahwa dari unsur kader kader terbaik ada di Partai Golkar, kita tidak bisa menafikan bagaimana kelompok-kelompok kekaryaan yang ada di Partai Golkar seperti KOSGORO, MKGR, SOKSI dan lainnya mampu memberikan kontribusi positif dan juga memberikan sumbangsih pasti bagi Partai Golkar.
Melihat dinamika tersebut, kita juga memahami bahwa peran generasi muda harus dioptimalkan dalam meraih kemenangan dalam setiap event atau kontestasi yang diikuti oleh Partai Golkar kedepannya. Regenerasi sebuah kepemimpinan memberikan iklim dinamis yang akan memperkuat kaderisasi sebuah partai kedepannya. Wacana keterlibatan generasi muda dalam sebuah partai bukan sekedar sebagai objek pelengkap saja namun juga memberikan kontribusi yang nyata seperti keterlibatan langsung dan juga aksi nyata dalam pengembangan Partai Golkar.
Selain terlibat aktif dengan visi, misi dan kegiatan Partai Golkar, para pemimpin yang tengah menjabat perlu melakukan proses kaderisasi yang berkelanjutan. Salah satunya dengan cara memberikan kesempatan pada generasi muda untuk berkarya. Proses regenerasi dalam Partai Golkar tidak hanya dilakukan dalam arti peralihan posisi atau jabatan dari generasi yang senior kepada juniornya, tapi juga meliputi transfer ilmu dan pengalaman. Dengan demikian, proses kaderisasi ini juga mempersiapkan generasi muda untuk menerima tampuk kepemimpinan di masa mendatang.
Jika kedua kunci penting terkait regenerasi dalam organisasi tersebut telah dilakukan, maka ada satu poin tambahan yang perlu ditanamkan pada diri seorang pemimpin organisasi. Poin itu adalah pola pikir pantang putus asa dan tidak mudah kecewa. Sebuah usaha tidak selalu membuahkan hasil yang instan. Sehingga, kamu perlu terus konsisten dan berusaha menjadikan organisasi tersebut sebagai “rumah” bagi seluruh anggota,
Partai Golkar dalam sejarah nya adalah partai yang selalu rapat dengan penguasa, tidak pernah menjadi “oposisi” dari sebuah pemerintahan. Sebuah ilustrasi ini akan memberikan ruang bagi generasi selanjutnya yang akan menggantikan kepemimpinan Partai Golkar saat ini. Golkar Riau memiliki catatan catatan penting ketika pernah menjadi tempat terselenggaranya MUNAS Partai Golkar di Riau, yang berarti Partai Golkar Riau sangat diperhitungkan di kancah nasional. Maka tokoh yang memimpin kedepannya harus memperluas ruang main Partai Golkar secara nasional tersebut.
Selain membenahi secara internal baik kader dan juga visi misi partai yang sedikit terganggu pasca kontestasi 2024 tersebut, tokoh yang diajukan untuk memimpin Partai Golkar haruslah mampu menyatukan yang terpecah dan menghimpun yang terserak.











Komentar