oleh

Seminar Konten Kreatif BRIN, Tingkatkan Literasi Digital di Pasir Limau Kapas

Palika, Detaksatu.com : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar seminar tentang “Pembuatan Konten Media Sosial” di Aula Kantor Camat Pasir Limau Kapas pada Minggu, 24 Agustus 2025. Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penggunaan media sosial yang bijak dan produktif.

Dr Karmila Sari, Anggota Komisi X DPR RI fraksi Golkar, menjelaskan bahwa BRIN merupakan gabungan dari berbagai lembaga penelitian seperti LIPI. Sebagai mitra Komisi X DPR RI, BRIN memiliki banyak peneliti dan cendekiawan yang hasil penelitiannya bisa diaplikasikan untuk kemaslahatan masyarakat. Salah satu aplikasi tersebut adalah melalui seminar pembuatan konten kreatif yang diharapkan bisa memberikan manfaat langsung kepada peserta.

Karmila juga menekankan pentingnya berhati-hati dalam bermedia sosial. Ia mengutip pepatah lama “mulutmu adalah harimau” yang kini telah bertransformasi menjadi “jarimu adalah harimau”. Ia mengingatkan peserta bahwa konten yang dibuat haruslah positif dan membangun, bukan menghujat atau mengadu domba.

Melalui kerja sama antara pemerintah daerah, DPR RI, dan BRIN, diharapkan dapat terwujud masyarakat yang lebih melek digital dan mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif. Seminar ini menjadi awal yang baik untuk membangun ekosistem digital yang sehat dan produktif di Kecamatan Pasir Limau Kapas.

Dengan demikian, acara ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah inisiatif penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui literasi digital. Inisiatif ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menyentuh lebih banyak daerah yang masih memerlukan perhatian dalam bidang pendidikan dan teknologi.

Camat Panipahan, Suwarno, dalam sambutannya mengungkapkan apresiasinya atas kehadiran anggota Komisi X DPR RI, Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, memohon perhatian khusus terhadap kondisi pendidikan di wilayahnya yang masih memiliki banyak kekurangan, khususnya di bidang fasilitas dan teknologi. Suwarno mencontohkan, banyak sekolah yang belum memiliki lapangan upacara layak, bahkan ada yang tergenang saat air pasang.

Selain itu, Suwarno juga menyoroti minimnya fasilitas TIK, seperti komputer dan ruang perpustakaan yang belum memadai. Ia mengatakan bahwa ruang perpustakaan sering kali hanya “dibuat-buat” untuk memenuhi persyaratan sertifikasi, bukan untuk penggunaan yang sebenarnya. Kekurangan ini mencakup juga ruang belajar dan fasilitas lainnya di berbagai sekolah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *