Pekanbaru, detaksatu : Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII, Dr Nopriadi, SKM, MKes, menggerakkan 91 perguruan tinggi negeri dan swasta di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) untuk menggelar aksi donor darah. Gerakan kemanusiaan dalam rangka Milad Ketiga LLDIKTI Wilayah XVII itu ditargetkan mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai kegiatan donor darah dengan keterlibatan perguruan tinggi terbanyak di Indonesia.
Dari 91 perguruan tinggi yang dilibatkan, sebanyak 87 merupakan perguruan tinggi swasta (PTS) dan empat lainnya perguruan tinggi negeri (PTN) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Empat PTN tersebut yakni Universitas Riau, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Politeknik Negeri Bengkalis, dan Politeknik Negeri Batam.
Nopriadi mengatakan, gerakan donor darah tersebut merupakan bentuk kepedulian dunia pendidikan tinggi terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi tidak cukup hanya berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan akademik, tetapi juga harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Milad tiga tahun LLDIKTI Wilayah XVII tidak seharusnya hanya diisi kegiatan seremonial. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperluas kontribusi lembaga pendidikan tinggi terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat,” kata Nopriadi di Kantor LLDIKTI Wilayah XVII, Kamis (5/11).
Dia menjelaskan, aksi donor darah diawali di lingkungan kantor LLDIKTI Wilayah XVII dengan melibatkan 49 pegawai. Selanjutnya, kegiatan akan diperluas ke berbagai kampus di Riau dan Kepri dengan mengajak dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika.
Nopriadi menyebutkan, potensi partisipasi dalam gerakan tersebut sangat besar. Saat ini terdapat sekitar 162.800 mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta di Riau dan Kepri.
Selain itu, terdapat lebih dari 6.500 dosen PTS, belum termasuk dosen yang mengajar di perguruan tinggi negeri.
“Seluruh mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika dari perguruan tinggi negeri maupun swasta kita imbau untuk berpartisipasi. Potensi ini harus kita gerakkan bersama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan darah,” ujarnya.
Untuk memperluas keterlibatan kampus, LLDIKTI Wilayah XVII juga mengajak 665 program studi di lingkungan perguruan tinggi swasta agar ikut mengoordinasikan gerakan donor darah.
Menurut Nopriadi, keterlibatan program studi akan memudahkan pimpinan perguruan tinggi menggerakkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk berpartisipasi.
Dia menegaskan, target pencatatan MURI dalam kegiatan tersebut bukan berdasarkan jumlah pendonor terbanyak, melainkan jumlah perguruan tinggi yang terlibat dalam gerakan donor darah.
“Target kita adalah memecahkan rekor MURI dengan melibatkan perguruan tinggi terbanyak di Indonesia. Kita sudah berkoordinasi dengan tim MURI untuk merealisasikan target tersebut,” ungkapnya.
Nopriadi menjelaskan, pencatatan rekor berdasarkan jumlah pendonor terbanyak bukan menjadi sasaran utama karena kategori tersebut sebelumnya telah mencatatkan partisipasi dalam jumlah sangat besar.
Selain itu, tidak semua mahasiswa dapat menjadi pendonor karena terdapat persyaratan kesehatan dan kesediaan masing-masing individu. Karena itu, keterlibatan institusi perguruan tinggi menjadi fokus utama gerakan tersebut.
Dia pun meminta dukungan media massa, masyarakat, serta seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta di Riau dan Kepri agar gerakan kemanusiaan tersebut dapat berjalan optimal.
Menurut Nopriadi, kebutuhan darah bagi pasien merupakan persoalan penting yang membutuhkan dukungan berbagai pihak. Setiap kantong darah yang disumbangkan dapat menjadi harapan bagi pasien yang membutuhkan transfusi.
“Setetes atau sekantong darah mungkin terlihat sederhana bagi kita. Namun, bagi orang yang sedang berjuang mempertahankan hidup, darah yang didonorkan bisa menjadi harapan untuk menyelamatkan nyawa,” tuturnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan gerakan tersebut sejalan dengan semangat Dikti Saintek Berdampak. LLDIKTI Wilayah XVII ingin mendorong perguruan tinggi menjadi motor penggerak pembangunan di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
Upaya itu juga diwujudkan melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri, masyarakat, serta media massa.
Melalui kolaborasi tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, tetapi juga berperan aktif dalam membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Di sisi lain, Nopriadi mengungkapkan indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan LLDIKTI Wilayah XVII telah mencapai 90,75 dan masuk kategori sangat baik. Capaian tersebut disebut terus mengalami peningkatan setiap bulannya.
“Ini perlu kita tingkatkan terus dari waktu ke waktu,” katanya.
Setelah pelaksanaan perdana di kantor LLDIKTI Wilayah XVII, kegiatan donor darah direncanakan berlanjut ke berbagai kampus di Riau dan Kepri.
Nopriadi juga berharap Palang Merah Indonesia (PMI), mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga kecamatan, dapat memanfaatkan gerakan tersebut untuk memperkuat ketersediaan stok darah.
Dia berharap aksi donor darah yang melibatkan 91 perguruan tinggi itu tidak berhenti sebagai rangkaian perayaan milad, tetapi berkembang menjadi gerakan kemanusiaan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Vie









