Pekanbaru, detaksatu : Provinsi Riau hingga kini masih dihadapkan pada pekerjaan rumah besar terkait minimnya rasio dan timpangnya distribusi tenaga apoteker. Menjawab tantangan tersebut, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII menaruh harapan besar pada lulusan baru Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Riau untuk segera turun tangan memperkuat ketahanan kesehatan daerah.
Harapan itu ditegaskan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XVII, Dr H Nopriadi, SKM, MKes, saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Apoteker Angkatan XIV STIFAR Riau di Pekanbaru, Selasa (19/5/2026).
Di hadapan ratusan tamu undangan, Dr. Nopriadi membeberkan fakta krusial dari data indikator SDM Kesehatan. Saat ini, jumlah apoteker yang beroperasi di Riau hanya berkisar 2.018 orang. Padahal, mereka harus melayani populasi penduduk yang mencapai lebih dari 6,8 juta jiwa.
“Artinya, rasio apoteker di Riau saat ini baru menyentuh angka 0,30 per 1.000 penduduk. Angka ini masih jauh dari target ideal Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi, yakni 0,91 apoteker per 1.000 penduduk,” paparnya.
Kondisi ini semakin diperberat dengan fenomena maldistribusi. Tenaga farmasi dinilai masih menumpuk di pusat-pusat kota besar, sementara fasilitas pelayanan primer seperti puskesmas di kawasan terpencil dan kepulauan Riau masih sangat kekurangan suplai apoteker.
“Melihat realita tersebut, kehadiran apoteker baru lulusan STIFAR Riau hari ini laksana angin segar sekaligus amunisi baru yang sangat dinantikan oleh masyarakat luas,” tegas Dr Nopriadi.
Integritas Harga Mati di Era Digital
Lebih lanjut, Kepala LLDIKTI XVII mengingatkan bahwa sumpah yang baru saja diikrarkan para lulusan bukanlah sekadar syarat administrasi kelulusan. Sumpah tersebut adalah ikatan etis tertinggi yang mempertaruhkan nyawa dan keselamatan pasien.
Apalagi, lanskap dunia kesehatan kini tengah dihantam arus transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Menghadapi dinamika ini, gelar akademik saja dinilai tidak cukup.
“Gelar ‘Apt.’ yang kini melekat di depan nama saudara adalah amanah. Jangan pernah puas dengan ilmu yang ada hari ini. Jadilah apoteker yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap bekerja dengan hati. Mengedukasi masyarakat tentang obat yang benar adalah tugas mulia kalian,” pesannya kepada para apoteker baru.
Sebagai penutup, pimpinan tertinggi LLDIKTI Wilayah Riau dan Kepri ini memberikan apresiasi khusus kepada Yayasan Universitas Riau dan STIFAR Riau. Institusi ini dinilai sukses menjaga konsistensi mutu akademik dan membuktikan perannya sebagai pabrik pencetak tenaga medis andal berskala nasional.
Momen bersejarah ini turut disaksikan oleh jajaran strategis sektor kesehatan, mulai dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru, perwakilan Pengurus Pusat hingga Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Kepala BBPOM Pekanbaru, jajaran pengurus APTISI, hingga puluhan preceptor (pembimbing klinik) dari jaringan apotek, PBF, rumah sakit, dan puskesmas.
Lap : Vie











Komentar