Pekanbaru, detaksatu : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII mengawal langsung proses Evaluasi Lapangan usulan perubahan bentuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mahaputra Riau menjadi Institut Mahaputra Indonesia. Evaluasi yang menjadi penentu status kelembagaan ini digelar di Pekanbaru, Senin (18/5/2026).
Kepala LLDIKTI Wilayah XVII, Dr H Nopriadi, SKM, MKes, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa transformasi kelembagaan ini merupakan langkah visioner dari Yayasan Dharma Bakti Putera Muslim Indonesia. Perubahan ini dinilai sangat krusial untuk menjawab tantangan era globalisasi yang menuntut fleksibilitas kompetensi lulusan.
“Transformasi dari STIE menjadi Institut ini bukanlah sekadar perubahan papan nama atau pergantian status legalitas semata. Ini adalah sebuah lompatan kuantum. Dengan menjadi Institut, institusi akan memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas untuk membuka program studi baru yang multidisipliner, responsif terhadap potensi daerah Riau, dan relevan dengan kebutuhan industri,” tegas Dr Nopriadi.
Evaluasi Tiga Aspek Fundamental
Proses evaluasi lapangan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari ini menyoroti tiga aspek fundamental, yakni aspek hukum, aspek umum, dan aspek keuangan. Tim evaluator nasional yang diturunkan langsung oleh Direktorat Kelembagaan Diktisaintek terdiri dari pakar lintas universitas, di antaranya Prof. Dr. Fransiscus Xaverius Sumarja, SH, MHum. (Universitas Lampung), Prof. Euphrasia Suzy Suhendra (Universitas Gunadarma), dan Barbara Gunawan, SE, MSi, Ak, CA (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Kepada tim pengusul dan pihak yayasan, Dr. Nopriadi berpesan agar menjadikan momen evaluasi ini sebagai ruang diskusi dan pembinaan, bukan sebagai ujian formalitas yang kaku.
“Kami harap pihak kampus dapat menyajikan bukti dokumen penjaminan mutu secara transparan dan akurat. Tunjukkan bahwa semangat perubahan ini didukung penuh oleh infrastruktur fisik yang memadai, kualifikasi dosen yang mumpuni, serta komitmen finansial yang menjamin keberlanjutan operasional ke depan,” tambahnya.
Melalui sinergi yang kuat antara Yayasan Dharma Bakti Putera Muslim Indonesia, pengelola kampus, LLDIKTI XVII, dan Direktorat Kelembagaan, proses transisi ini ditargetkan dapat berjalan cepat, legal, dan akuntabel. Lahirnya Institut Mahaputra Indonesia diharapkan membawa dampak positif langsung terhadap peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Provinsi Riau.
Turut hadir dalam pembukaan agenda tersebut Perwakilan Direktorat Kelembagaan Diktisaintek Josephine Margaretta, SE, dan Ade Dwi Pradipta, SAP, Ketua Yayasan Amrizal, BSc, Ketua STIE Mahaputra Riau Masril, SE, MM, beserta jajaran wakil ketua, ketua program studi, dan Tim Pokja Kelembagaan LLDIKTI Wilayah XVII.
Lap : Vie











Komentar