Pekanbaru, detaksatu : Provinsi Riau tengah menghadapi tantangan serius terkait minimnya rasio dokter gigi dan psikolog profesional. Merespons kondisi tersebut, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII, Dr H Nopriadi, SKM, MKes, turun langsung mengawal jalannya Evaluasi Lapangan usulan pembukaan Program Studi Kedokteran Gigi dan Psikologi di Universitas Islam Riau (UIR), Senin (18/5/2026).
Kehadiran orang nomor satu di LLDIKTI Wilayah XVII Riau dan Kepulauan Riau ini menjadi bentuk dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif UIR dalam meratakan akses pendidikan dan kesehatan.
Dalam pidato sambutannya, Dr. Nopriadi membeberkan fakta bahwa rasio dokter gigi di Riau saat ini sangat memprihatinkan, yakni hanya 9 dokter per 100.000 penduduk.
“Angka ini masih jauh di bawah standar ideal nasional dari Kementerian Kesehatan, yaitu 11 sampai 13 dokter gigi per 100.000 penduduk. Ironisnya lagi, ketersediaan tenaga medis yang terbatas ini justru menumpuk di pusat perkotaan. Padahal 57 persen masyarakat kita mengalami masalah gigi,” papar Dr. Nopriadi di hadapan tim evaluator dan jajaran pimpinan daerah yang hadir.
Tidak hanya sektor kesehatan fisik, Dr. Nopriadi juga menyoroti darurat tenaga psikolog. Menurutnya, Riau sebagai provinsi dengan denyut nadi industri perkebunan dan pertambangan yang masif, sangat membutuhkan sentuhan psikolog profesional untuk pengembangan SDM, penanganan trauma klinis, hingga pendampingan hukum.
Minimnya akses pendidikan profesi ini sering kali memaksa anak-anak daerah harus merantau jauh ke Pulau Jawa.
“Karena itu, LLDIKTI Wilayah XVII menyambut baik dan menaruh harapan besar pada UIR. Upaya ini bukan sekadar mengejar gengsi akademis, melainkan jawaban nyata atas kebutuhan riil masyarakat Riau akan akses kesehatan fisik dan mental yang merata,” tegasnya.
Evaluasi Sebagai Ajang Pendampingan
Agenda evaluasi lapangan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari (18-19 Mei 2026) ini melibatkan tim pakar lintas sektor berskala nasional. Di antaranya perwakilan Direktorat Kelembagaan, LAMPTKES, Konsil Kedokteran Gigi (KKG), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Pusat, hingga asosiasi keilmuan seperti AFDOKGI dan ARSGMPI.
Menghadapi tim penilai tersebut, Dr. Nopriadi menyatakan optimismenya. UIR sebagai salah satu perguruan tinggi swasta tertua dan terakreditasi “Unggul” di Riau-Kepri dinilai telah mempersiapkan segalanya dengan matang melalui sistem SIAGA Kemdiktisaintek. Kesiapan ini mencakup rasio dosen, kurikulum, ketersediaan preceptor (pembimbing praktik), hingga fasilitas fisik.
Di akhir arahannya, Dr. Nopriadi berpesan kepada seluruh tim taskforce UIR agar menjadikan momen evaluasi ini sebagai ruang diskusi dan penyelarasan visi mutu.
“Proses evaluasi ini bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan bentuk pendampingan. Rekomendasi tajam dari para evaluator hari ini adalah modal utama. Kami berharap hasilnya disetujui, sehingga UIR bisa segera menerima mahasiswa baru dan mencetak lulusan yang menyehatkan bangsa,” pungkas Dr. Nopriadi.
Lap : vie











Komentar