Cuaca yang cerah di pagi Selasa, 20 Juni 2023. Tampak sang mentari setia menyinari sebuah desa yang berada di tepian Sungai Kampar. Rumah-rumah panggung yang bangunannya terbuat dari papan yang didapat dari hutan tempatan menjadi ciri khas desa ini.
Desa Rantau Baru namanya. Salah satu desa yang termasuk kedalam administratif Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Jika hanya dilihat sekilas saja desa ini tak begitu istimewa.
Namun, siapa sangka desa ini memiliki banyak cerita sejarah yang belum diketahui khalayak. Salah satunya sebagai tempat awal mula munculnya adat istiadat di Kerajaan Pelalawan.
Alkisah, diceritakan pada masa itu datanglah seseorang yang berasal dari Kerajaan Gunung Hijau di Tanah Datar, Batu Sangkar disebut Tan Gadi (Tuan Gadis) atau Bundo Kandung ke Kerajaan Pelalawan guna mengantarkan Datuk Laksemana kepada Maharaja Dinda.
Datuk Laksemana diserahkan kepada Maharaja Dinda di Pekan Tuo Kampo di Sungai Nilo. Setelah diserahkan, Maharaja Dinda menobatkan Datuk Laksemana menjadi Datuk Sati Diraja Rantaubaru. Supaya jangan ada kaitan ke Bundo Kandung lagi sebab sudah diserahkan.
Disinilah awal mula Datuk Sati Diraja Rantaubaru. Setelah itu muncullah adat istiadat di Kerajaan Pelalawan. Dan mulai terbentuknya perkumpulan-perkumpulan adat, seperti batin-batin serta penghulu-penghulu yang lainnya.
“Jadi awal mula munculnya adat istiadat itu setelah Datuk Sati Diraja Rantaubaru dinobatkan oleh Maharaja Dinda,” Ujar Datuk Engku Raja Lela Putera, Wan Ahmat salah satu keturunan dari Kerajaan Pelalawan mengisahkan.
Zaman demi zaman setelah perang siak dengan pelalawan. Nama Datuk Sati Diraja Rantaubaru berubah menjadi Batin Sibokol Bokol. Perubahan itu dilakukan karena menurut peta milik Belanda, tidak ada nama Batin Sibokol Bokol. Akan tetapi namanya Perbatinan Rantau Baru.
“Jadi, saat ini saya mengikut saja lagi, akan tetapi saya tidak meninggalkan nama Datuk Sati Diraja Rantaubaru. Maka, namanya menjadi Datuk Sati Diraja Rantaubaru Batin Sibokol Bokol,” ucap Datuk Engku Raja Lela Putera melanjutkan.**
Penulis : Cahyo Ariadi.










Komentar