Adat Bersendi Sara’
Sara’ Bersendi Kitabullah
Sara’ Semata Adat Memakai
Adat Ialah sara’ Semata
Adat Semata Qur’an dan Sunah
Adat Sebenar Adat Ialah Kitabullah dan Sunnah Nabi
Adat Tumbuh dari Sara’
Sara’ Tumbuh dari Kitabullah
Berdiri Adat Karena Sara’
Pameo ini sangat melekat pada masyarakat desa Rantau Baru dari dahulu hingga sekarang. Adat yang berdasarkan agama islam dan agama islam itu sendiri dasarnya adalah Al-Qur’an (kitabullah) menjadi pegangan hidup masyarakat di wilayah tepian Sungai Kampar itu.
Baru-baru ini masyarakat desa Rantau Baru usai menggelar sebuah acara sakral ‘Penobatan Datuk Sati Diraja Rantaubaru Batin Sibokol Bokol’. Menjelang dilaksanakannya penobatan itu, masyarakat yang eksis menjalankan adat istiadat itu menggelar berbagai prosesi adat istiadat.
Salah satunya, prosesi shalat wajib berjamaah, membaca surah yasin, tahtim, tahlil dan doa. Prosesi ini melibatkan tiga tungku sejerangan, yakni orang pemangku adat, orang pemerintahan dan orang pegawai sara’. Hal ini membuktikan bahwa adat dan agama sangat dekat hubungannya di desa itu.
Demikian dijelaskan Dr H Griven H Putera MAg sehari sebelum dinobatkan menjadi Datuk Sati Diraja Rantaubaru Batin Sibokol Bokol pada Selasa, 20 Juni 2023 kemarin, didepan halaman rumah yang terbuat dari kulit kayu medang tempat dia dilahirkan pada 46 tahun silam.
“Dari pepatah adat ini sudah jelas bagaimana hubungan sara’ dengan adat istiadat di kampung kita ini. Pepatah inilah yang digunakan oleh para orang-orang bijak, orang-orang pintar, para orang-orang pilihan masa lalu menjadi pemimpin di negeri kita,” ungkap putera asli kelahiran Rantau Baru 28 Juli 1976 itu.
Maka, kata Datuk Griven, karena tahu bahwa adat bersendi sara’, sara’ bersendi kitabullah, maka rangkaian acara penobatan Datuk Sati ini dimulai dari masjid, melakukan shalat wajib berjamaah, yang dilakukan Datuk Sati, kemudian Kepala Desa dan Pegawai sara’ serta masyarakat anak kemenakan.
Datuk Griven melanjutkan, untuk membangun negeri itu diperlukan yang pertama adat yakni, pemuka adat, kemudian harus ada juga orang pemerintahan kalau disini pemerintahan desa dan pegawai sara’ yang mengurus tentang agama disitu ada imam, ada bilal ada khatib.
“Jadi tiga orang besar inilah yang akan memajukan negeri,” jelas Datuk Griven.
Selain mengambil dari pepatah itu, kita juga mengambil ilham dari Rasulullah, nabi membangun peradaban islam itu dari masjid ke masjid. Dan setelah itu peradaban islam baru maju.
“Jadi kita ingi negeri kita ini maju. Mau tidak mau kita kembali ketahap awal dari masjid. Kita kumpulkan orang masyarakat anak kemenakan kita membaca yasin tahtim tahlil dan doa. Doa yang kita panjatkan itu doa sholawat, yakni sholawat nariyah,” jelasnya lagi.
Datuk Griven mengatakan, kedepannya ia akan membangun yang tiga ini, pemangku adat, pemerintahan, dan pegawai sara’. “Orang adat tidak akan ada artinya tanpa orang pemerintahan dan pemerintahan tidak akan kuat kalau tidak ada yang mendirikan sari’at agama disini,” pungkas Sastrawan Riau itu.**
Penulis : Cahyo Ariadi.





