oleh

Mendiktisaintek dan Kepala LLDIKTI Wilayah XVII Hadiri Milad ke-17 UMRI, Tegaskan Peran Kampus dalam Menjawab Tantangan Bangsa

Pekanbaru, Detaksatu.com : Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Brian Yuliarto, PhD, bersama Kepala LLDIKTI Wilayah XVII Riau dan Kepulauan Riau, Dr H Nopriadi, SKM, MKes, menghadiri Sidang Senat Terbuka Milad ke-17 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) yang digelar secara khidmat di Auditorium Utama Kampus UMRI. Acara tersebut menjadi momen strategis bagi pemangku kepentingan pendidikan tinggi dalam mempertegas arah pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Hadir pula dalam acara ini Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mufti Perlis, Perwakilan Gubernur Riau, Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, Skom, MM, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, serta mitra strategis UMRI dari dalam dan luar negeri. Sidang senat terbuka ini juga dihadiri civitas akademika UMRI dan para tamu undangan dari berbagai instansi nasional dan internasional.

Dalam laporan tahunannya, Rektor UMRI Dr H Saidul Amin, MA, menyampaikan bahwa usia 17 tahun merupakan simbol kedewasaan institusi. UMRI, menurutnya, kini tengah melangkah dengan visi besar yang berlandaskan inovasi, kolaborasi, dan internasionalisasi untuk tampil sejajar di tingkat nasional dan global.

Dalam orasi ilmiahnya, Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto mengangkat tema strategis tentang peran pendidikan tinggi dalam menyiapkan generasi unggul. Ia memperkenalkan “12 Karakter Sukses” sebagai kerangka nilai yang harus ditanamkan kepada setiap lulusan perguruan tinggi. Karakter-karakter seperti Desire (keinginan kuat), Faith (keyakinan), Grit (kegigihan), Imagination, hingga Specialized Knowledge, menurutnya, merupakan pilar penting dalam membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, spiritual, dan etika.

“Kita tidak ingin lulusan perguruan tinggi hanya membawa ijazah, tapi kosong dari nilai. Kampus harus mencetak pemimpin masa depan dengan fondasi karakter kuat yang bisa menghadapi kompleksitas dunia kerja dan perubahan global yang sangat cepat,” tegas Brian.

Ia juga menyampaikan keprihatinan atas rendahnya angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia, yang hingga 2024 baru mencapai 10,2%. “Artinya, dari setiap 100 anak usia 15 tahun ke atas, hanya sekitar 10 yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Ini menjadi alarm bagi kita semua,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mendiktisaintek menyoroti tantangan lain, yakni rata-rata lama sekolah nasional yang belum menyentuh pendidikan tinggi, tingginya tingkat pengangguran lulusan diploma dan sarjana, dan dominasi tenaga kerja berpendidikan menengah di sektor industri. Ironisnya, kata dia, “gelar tinggi belum menjamin serapan kerja yang tinggi bila kampus tidak menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.”

Sebagai solusi, ia menegaskan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak dengan tiga strategi utama:
Satu, Penguatan kurikulum berbasis kebutuhan industri dan masyarakat lokal, kedua, Kolaborasi aktif kampus dengan dunia usaha dan pemerintah daerah, dan ketiga, Akselerasi inovasi dan riset aplikatif, khususnya di wilayah potensial seperti Riau dan Kepri.

Menteri juga menekankan pentingnya membangun industri bernilai tambah tinggi sebagai upaya meningkatkan penghasilan per kapita dan mewujudkan kemandirian ekonomi. “Tantangan kita bukan hanya di angka, tetapi di persepsi. Kita harus mengubah cara pandang terhadap pendidikan tinggi sebagai alat perubahan sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengusung visi bersama Indonesia Maju dan menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya terobosan-terobosan baru.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XVII, Dr H Nopriadi, dalam pernyataannya mengapresiasi orasi ilmiah Mendiktisaintek dan menyatakan komitmennya untuk terus mendorong transformasi perguruan tinggi di Riau dan Kepulauan Riau agar adaptif terhadap perubahan global.

“Kami di LLDIKTI Wilayah XVII siap menjadi mitra strategis dalam mengawal implementasi Program Diktisaintek Berdampak. UMRI telah memberi contoh nyata bahwa kampus Muhammadiyah bisa tampil di panggung global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaannya,” ujar Dr. Nopriadi.

Milad ke-17 UMRI tahun ini bukan hanya selebrasi usia, tapi juga menjadi panggung refleksi dan komitmen bersama untuk menjadikan kampus sebagai garda terdepan pembangunan bangsa.

Lap : Vie

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *