oleh

Ulama Masjid Nabawi Asal Riau Doakan Perjuangan Hak Adat LAMR

Madinah, Detaksatu : Seorang ulama di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia, asal Kampar, Riau, Syekh Dr Ariful Bahri, M. A., mendoakan kemudahan dan keberkahan perjuangan hak-hak masyarakat adat yang diupayakan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) . Selain itu, masyarakat diminta tetap teguh menjadikan syarak dan kitabullah sebagai sendi adat.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (Ketum DPH) LAMR, Datuk Seri Drs. H. Taufik Ikram Jamil, M. Ikom, yang menjumpai Syekh Ariful, usai berceramah di Masjid Nabawi, Senin malam. “Alhamdulillah, beliau tampak penuh perhatian ketika dikabarkan ihwal kampung halamannya termasuk soal adat, ” katanya.

Datuk Seri Taufik sendiri berada di Madinah dalam perjalanan melaksanakan umrah. Tiga malam terakhir di kota tersebut, ia menghadiri ceramah Syekh Ariful bakda Maghrib, satu-satunya ceramah dalam bahasa Melayu/ Indonesia di masjid utama tersebut.

Kata Taufik, malam-malam sebelumnya, sebagaimana jamaah lain, dia hanya menyalami Syekh Ariful. Baru malam terakhir di Madinah, setelah bersalaman, Taufik menyebut sedikit identitas sebagai Ketum DPH LAMR.

“Muka Syekh terlihat berbinar-binar setelah saya sebut identitas dengan kepanjangannya yakni Lembaga Adat Melayu Riau, ditambah upaya memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Melayu Riau,” kata Datuk Taufik.

Tak lengah lagi, sebagaimana lazimnya bertemu dengan orang saleh, Datuk Taufik memohon doa dan nasihat dari sosok yang sudah sejak tahun 2007 itu berada di Madinah dan menyelesaikan Doktor-nya bidang akidah dari Universitas Islam Madinah. “Setalah diminta itulah, keluar ucapan beliau, semoga memperoleh kemudahan dan keberkahan,” kata Taufik.

Kepada Syekh, sempat juga disebutkan bahwa secara umum, tugas LAMR tidaklah ringan, sehingga doa dari berbagai kalangan memang sangat diharapkan, “Saya tentu menahan diri untuk tidak terlalu jauh berbicara masalah dunia karena di dalam masjid, tetapi mendoakannya, apalagi meminta kepada ulama, kiranya kita juga menjadikan dunia untuk akhirat,” kata Taufik.

Di sisi lain, keberadaan Syekh Ariful Bahri, menjadi satu kebanggaan Riau. Untuk bisa menjadi ulama di masjid Nabawi misalnya, melalui berbagai seleksi yang ketat dan sudah dijalaninya sejak 2019.

Syekh sendiri masih sangat intim dengan daerah asalnya. Dialek Kampar-nya masih kental, sedangkan keluarga besarnya masih berada di Kabupaten Serambi Makkah itu. “Nanti balik, ” katanya yang ditirukan Datuk Taufik, ketika ditanya soal pulang kampung.

Taufik mengaku, jika hak-hak masyarakat adat yang sempat dilontarkannya kepada Syekh Ariful, hal itu karena soal tersebutlah yang banyak dibicarakan di LAMR. “Dalam dua bulan terakhir, kita memang intens membicarakan hal tersebut dengan Pemprov Riau dan DRPD Riau, misalnya menyusun tim dan merancang regulasinya, ” kata Taufik.

Sebagaimana diketahui, kepemilikan hak-hak adat seperti tanah ulayat Melayu Riau banyak dikuasai pihak lain. Tak pelak sengketa lahan yang melibatkan masyarakat adat terjadi di mana-mana. Belum lagi menyangkut kebun ilegal yang mencapai 1,4 juta hektare dan di antaranya berada di kawasan hak adat.

Editor : Vie

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru