oleh

Pemerintah Kota Pekanbaru Lakukan Pengendalian Banjir Terpadu

Pekanbaru, Detaksatu : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru menyatakan, saat ini penanganan banjir yang kerap terjadi ketika musim penghujan sudah mengacu kepada masterplan yang disusun tim ahli. Sesuai masterplan tersebut, terdapat sebanyak 113 titik banjir dan 363 masalah atau penyebab banjir yang perlu dilakukan penanganan.

“Kalau tidak mengacu ke masterplan, nanti malah tidak fokus. Jadi sekarang penanganannya sudah sesuai masterplan,” ungkap Kepala Dinas PUPR Kota Pekanbaru Indra Pomi Nasution.

Penanganan sendiri dibagi menjadi tiga tahapan antaranya skala cepat, sedang, dan jangka panjang. Untuk skala cepat, beberapa program seperti normalisasi sungai, normalisasi drainase dan lain-lain terus dilakukan. Untuk anggaran penanganan banjir sesuai masterplan, tahun ini telah dialokasikan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru sebesar Rp 13 miliar.

Secara keseluruhan untuk penanganan banjir jangka panjang, lanjut Indra, paling sedikit dibutuhkan sebesar Rp 180 miliar. Sedangkan penanganannya perlu waktu sekitar 10 tahun ke depan.

“Jadi untuk penanganan banjir ini butuh waktu sekitar 10 tahun, yang mana satu tahun paling tidak dialokasikan anggaran sekitar Rp18 miliar,” katanya.

Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT mengatakan, masterplan merupakan rencana induk drainase Kota Pekanbaru. Hal itu untuk penanganan banjir pada sejumlah wilayah. Dalam masterplan ini ada sejumlah rencana penanganan banjir.

“Mulai dari penanganan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Di situ ada perencanaan drainase untuk kota modern,” ujarnya.

Menurut Walikota, dalam masterplan ini ada perencanaan konstruksi drainase kota yang baik. Drainase dalam mengaliri air harus berfungsi dengan baik hingga ke muara atau anak sungai. Dalam masterplan ini didata seluruh drainase, dan anak sungai di Kota Pekanbaru. Tim ahli juga menghitung jumlah drainase yang berfungsi dan yang sudah mati.

“Pada masterplan ini terdata sebanyak 350 titik lebih genangan banjir, dengan bermacam macam kondisi,” terangnya.

Pemerintah Kota mewaspadai hal ini ketika memasuki musim penghujan. Dengan topografi kota Pekanbaru yang relatif landai yaitu sekitar 20 sampai dengan 50 cm di atas permukaan laut, ditambah lagi posisinya diapit oleh dua daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Siak dan DAS Kampar menjadikan kota ini rawan mengalami kebanjiran.

Jika dilihat dari faktor alam banjir terjadi pada saat intensitas hujan tinggi pada hulu sungai akibat rusaknya catchment area di daerah Tapung. Kemudian, adanya fenomena back water atau aliran balik air yakni masuknya aliran sungai dari sungai Siak ke jaringan anak-anak sungai diakibatkan luapan sungai Siak dan pengaruh pasang-surut laut yang menyebabkan banjir pada daratan.

Sementara jika dilihat dari faktor manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas manusia juga berperan besar dalam fenomena banjir di perkotaan. Dapat dilihat, dengan berubahnya tutupan lahan akibat pembangunan menyebabkan berkurangnya daerah resapan air dan meningkatnya air permukaan.

Kemudian, terjadinya perubahan kontur tanah yang diakibatkan kegiatan penimbunan (rekayasa geoteknik) hingga menyebabkan terganggunya aliran air alami atau tertutupnya aliran anak sungai. Selain itu, kebiasaan buruk seperti membuang sampah ke sungai juga menyebabkan pendangkalan sungai. Landainya posisi kota Pekanbaru seperti yang telah disebutkan di atas tadi menyebabkan rendahnya dorongan air dari aliran anak-anak sungai untuk mencapai muara di Sungai Siak.

Akibatnya, sistem drainase menjadi tidak berfungsi maksimal dan menyebakan genangan air di permukaan.

Melalui Peraturan Daerah (Perda) Kota Pekanbaru Nomor 10/2006 tentang Sumber Daya Air dan Sumur Resapan serta Perda Nomor 7/2020 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW), Pemko merancang masterplan Pengendalian Banjir pada 2020 lalu dan perencanaan Sumur Resapan tahun 2021 ini.

Sejauh ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sudah membangun drainase sepanjang 1.950 meter pada 1 lokasi. Kemudian, pembangunan turap sepanjang 150 meter untuk 3 lokasi. Pemeliharaan berkala terhadap turap, leoning dan drainase 2 lokasi sepanjang 151 meter. Sementara itu untuk turap dan drainase yang masuk dalam pemeliharaan rutin berjumlah 17 titik sepanjang 2008 meter.

Pemerintah kota juga telah menormalisasi sungai dengan menggunakan alat berat di 44 titik sepanjang 42.780 meter. Sementara normalisasi dengan tenaga manusia dilakukan di 81 titik sepanjang 582.336 meter. Ada pun panjang sungai di kota Pekanbaru mencapai 230.972 meter.

Rinciannya, jumlah bagian sungai yang sudah diturap berkisar 25.767 meter dan yang belum diturap 205.202 meter. Sedangkan turap yang mengalami kerusakan dan perlu diperbaiki sekitar 4.127 meter.

Selain dua aliran sungai besar, terdapat 18 sub/cabang DAS yang mengelilingi Pekanbaru. Pemerintah kota mencatatkan terdapat 363 titik masalah. Jumlah titik masalah sesuai porsi kewenangan, Kota Pekanbaru bertanggung jawab sebanyak 264 titik. Dari jumlah itu, sebanyak 121 titik merupakan wilayah yang terdampak banjir/genangan. Jika ditotal, luas dari 121 titik banjir/genangan itu mencapai 294,36 hektar. (Advertorial)

Laporan : Kim PKU

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru