oleh

Terkait Konflik di Palestina dan Pandemi Covid-19 Menetes Air Mata Ust Ramadias Khobah Jumat di Masjid Alfalah Desa Air Molek II

DETAKSATU, Inhu – Ustad Ramadias, tak kuasa menahan tangisnya saat menjadi khatib Jumat di Mesjid Al – Falah Desa Air Molek 2 Kec Pasir Penyu Kab Inhu, Jumat (14/5).

Dia tak sanggup menahan air matanya, ketika membaca doa dalam khutbah dan bermohon agar warga Muslim Palestina dan Covid-19 yang menyandra umat muslim segera pergi, tidak lagi menyusahkan masyarakat dan aktivitas masyarakat bisa segera pulih.

Menurut Amir Jemaah Tabliq itu, dalam dua tahun ini, Covid-19 telah mengubah seluruh aktivitas masyarakat. “Idul Fitri dua tahun ini terasa sangat spesial. Bila biasanya kaum muslimin menjalankan ibadah seperti sholat Tarawil, shalat Ied dan sholat berjemaah lainnya bersama keluarga dalam keadaan aman dan lancar.

Saat ini karena dilanda pandemi biasanya setelah sholat Ied kita berjabat tangan dan berangkulan, kini semuanya sebatas angan dalam ingatan,” kata ust dengan suara bergetar.

Persoalan Plestina juga penderitaan umat muslim dunia dan berbarengan dengan Pandemi Covid-19, kata Ramadias, juga mengakibatkan kita dilarang mudik ke kampung halaman, tempat tumpah darah kita dilahirkan. “Silaturahmi dengan keluarga, kakek-nenek dan orangtua serta menengok rumah orangtua tempat dulu kita dilahirkan tak bisa lagi.

“Kita juga tidak bisa melihat tepian sungai tempat kita dulu mandi bersama seluruh keluarga,” ujar ust lagi.

Saat ini, keluarga kita di Palestina hidup dalam kondisi dibatas-batasi dan dibantai dengan cara keji dan kita sekarang diindonesia juga merasakan demikian oleh pandemi penyakit virus ini. “Ya Allah, ya Rabb segerakanlah konflik dibarenggi dengan kekejaman dan Covid 19 ini berlalu. Agar kami bisa kembali saling bersilaturahmi, bekerja dengan normal kembali, tidak didera ketakutan lagi,” ungkap ust dalam doanya yang diamini oleh seluruh jemaat saat sholat Jumat di Mesjid Alfalah Airmolek II.

“Pilu sedih hati ini rasanya melihat kondisi saat ini, tapi tentu ada yang lebih menyedihkan lagi yakni apabila amal ibadah kita selama bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah SWT. Mari kita berdoa agar kita semua diberikan hidayah oleh Allah,” ujarnya.

Pada bagian lain isi khutbahnya, mengatakan, saat ini dimana mana pemandangan hilir mudik masyarakat sedikit berkurang karena pandemi Covid-19 dan semua kegiatan dilakukan secara terbatas, termasuk tadarus, tarawih di setiap rumah ibadah.

“Mungkin Ramadhan kali ini Allah menginginkan kita untuk lebih memperhatikan ibadah kita dan lebih dekat dengan keluarga karena beraktivitas secara terbatas,” sebutnya.

Untuk itu, Ust Ramadias mengharapkan semua bisa mengambil hikmah Ramadhan yang spesial ini agar bisa menata hati dan mempertanyakan pada diri apa yang sebetulnya dicari dalam hidup ini. “Jika kondisi ini masih membuat abai dan tidak sadar, maka dengan cara apa lagi Allah memperingati kita,” tuturnya.

Berharap Allah selalu membukakan pintu hati semua pihak untuk mengambil hikmah setiap musibah, sehingga wabah ini segera sirna dan kembali menjadi insan yang mulia dan insan bertakwa.

“Tidak ada yang perlu kita sedihkan dengan kondisi saat ini, justru kita lebih sedih kalau amal ibadah kita tidak diterima, mari kita berdoa agar kita semua diberikan hidayah oleh Allah,” tutupnya.
(Laporan Editor)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru