oleh

Di Balik Covid 19; BUKAN SEMALAM DI MALAYSIA

Catatan: H. Dheni Kurnia

AKU pulang dari rantau
Bertahun-tahun di negeri orang
Oh Malaysia

Oh dimana kawan dulu
Kawan dulu yang sama berjuang
Oh Malaysia

Kekasih hatipun telah pula hilang
Hilang tiada pesan
Aduhai nasib apakah daya
Cinta hampa
Jiwaku merana
Mana dinda

TAHUN 1975 lagu “Semalam di Malaysia” ini menjadi “trending topik” di seluruh pelosok negeri Riau. Selain nyanyiannya yang mendayu-dayu (seperti kesukaan orang Melayu), lagu ini dijadikan pula film dengan judul yang sama, dibintangi oleh Sam Bimbo dan Nozie Nani, disutradarai Nico Pelamonia.

Kisahnya, percintaan antara penyanyi Malaysia dan Indonesia yang ternyata adalah saudara sekandung. Victor Abdullah (Sam Bimbo) penyanyi tenar Malaysia, jatuh cinta dengan Sandra (Nozie Nani) penyanyi Indonesia yang tengah mengadakan tur di Malaysia.

Belakangan, setelah percintaan mereka akan melangkah ke pelaminan, baru diketahui bahwa Viktor dan Sandra adalah kakak beradik kandung. Ayah dan ibu mereka berpisah ketika mereka masih kecil. Viktor dibawa saudaranya ke Malaysia, sedang Sandra dipelihara oleh keluarga kaya di Indonesia.

Kisah yang mengurai airmata ini, bagi orang Riau seperti kenyataan yang sesungguhnya. Karena orang Riau dan Semenanjung Malaysia sejak dulu seperti “saudara sedarah”. Riau dan Malaysia hanya dibatasi oleh tepian laut dan hilir sungai.

Adat resam yang sama, bahasa yang sama, budaya yang sama, agama yang sama dan laut yang sama, membuat Riau dan Malaysia susah dipisahkan. Bagi orang Riau, Malaysia adalah kampung kedua. Dan bagi sebagian warga Malaysia, Riau adalah sejarah asal mereka. Makanya, tidaklah heran, bila Perdana Menteri Malaysia yang sekarang, Muhyiddin Yassin, berasal dari Siak Sri Indrapura. Kakek Muhyiddin lahir dan berasal dari Kabupaten Siak, Riau.

Dan, tak heran pula ketika tahun 1963, Presiden RI Soekarno menyatakan Konfrontasi Indonesia-Malaya dengan semboyan: Ganyang Malaysia, orang Riau pun tak hendak bergerak. Satu-satunya provinsi di Indonesia yang tidak didukung oleh tokoh-tokoh adat dan agama untuk mengganyang Malaysia adalah Provinsi Riau. “Manalah mungkin kami akan memerangi saudara sendiri,” begitu tegas sejumlah tokoh adat Riau ke Presiden Soekarno.

Ensiklopedia Sejarah Melayu mencatat, nama Riau ada sejak Raja Kecik memindahkan pusat Kerajaan Melayu dari Johor (Malaysia) ke ulu Riau pada tahun 1719. Nama ini dipakai sebagai salah satu dari empat negeri utama yang membentuk Kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. Namun, akibat dari “Perjanjian London” tahun 1824 antara Belanda dan Inggris, kerajaan terbelah jadi dua. Belahan Johor-Pahang berada di bawah pengaruh Inggris, Sedangkan belahan Riau-Lingga berada di bawah jajahan Belanda.

Dalam buku Sejarah Melayu Sulalatus Salatin yang ditulis Tun Sri Lanang (1612), tertulis imporium Melayu sudah dimulai pada abad 12, dari Kerajaan Bintan-Tumasik, disusul dengan periode kesultanan-kesultanan Melayu Islam berikutnya. Wilayahnya mencakup Bintan, Indragiri, Kampar, Malaka, Johor, termasuk Singapura. Artinya, Riau, Kepulauan Riau dan beberapa negara bagian di Malaysia dan Singapura saat ini, memiliki sejarah dan nenek moyang yang sama.

Sayangnya, bangsa penjajah memisahkan Riau, Kepulauan Riau, Malaysia dan Singapura. Mereka mengkapling-kapling tanah jajahan sesuka hati. Ibarat kata pepatah; yang kuat dapat banyak, yang cerdik abaikan sakit.

Tapi terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa Riau yang kini menjadi bagian dari Indonesia, adalah “saudara sekandung” dengan beberapa negara bagian di Malaysia. Jutaan orang Riau dan Kepulauan Riau kini berada di Malaysia. Begitu juga sebaliknya. Mereka banyak yang sudah menjadi warga negara di sana maupun yang masih memegang KTP (Kartu Tanda Penduduk) Riau atau bahkan ada pula yang tak jelas statusnya.

Dan kini, ketika zaman berganti, ketika musim bertukar, ketika wabah Covid 19 atau virus Corona menyerang dunia, Riau ikut pula terkena. Begitu pula negeri-negeri di Semenanjung Melayu Malaysia. Hingga akhir Maret 2020 ini, tercatat 3 warga Riau positif terinfeksi, 188 PDP (Pasien Dalam Pemantauan) dan 14.898 Orang Dalam Pemantauan (ODP). Tiga warga Riau yang terinfeksi Corona itu, seluruhnya baru pulang dari Malaysia, begitu juga yang dalam perawatan PDP.

Yang lebih hebat lagi, sebanyak hampir 15 ribu ODP tersebut, sebagian besar atau lebih 85 persen, adalah orang Riau yang tinggal atau bekerja dan sekolah di Malaysia. Mereka terpaksa pulang karena ada “pembersihan” orang asing di Malaysia. Mereka terpaksa pulang karena memiliki pasport Riau. Mereka tak lagi menjadi saudara sedarah di Malaysia. Corona telah memisahkan sejarah dan menjadikan mereka orang asing di negeri sendiri.

Gubernur Riau, Drs. H. Syamsuar MSi, mengaku kaget melihat angka PDP apalagi ODP. Dia juga melakukan telewicara melalui WhatsApp (WA) dengan penderita Covid 19. Mereka yang terkena, mengaku baru pulang dari Malaysia. Dalam pembicaraan, Syamsuar tak tampak berang, tapi keningnya berkerut. Setelah itu, dia memerintahkan seluruh orang Riau yang baru pulang dari Malaysia, harus diperiksa ketat beberapa hari tanpa terkecuali di seluruh kabupaten dan kota di Riau. Harus dicek kesehatannya dengan seksama, baru diperbolehkan pulang. Begitu juga mereka yang datang dari luar Malaysia.

Gubernur kemudian memerintahkan pula, seluruh bupati dan walikota untuk menganggarkan dana APBD bagi pencegahan dan pengobatan Covid 19. Hingga kini pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sudah menyisihkan hampir satu triliun rupiah buat Corona. Sebanyak Rp160 miliar anggaran Provinsi Riau, Rp300 miliar Kabupaten Bengkalis, dan sekitar Rp400 miliar dari 10 kabupaten lainnya. Kenapa Bengkalis besar, karena di kabupaten itulah yang terbanyak ODP di Riau.

Syamsuar juga berjanji memberikan bonus bagi dokter dan perawat yang menangani pasien virus Corona. “Saya pastikan seluruh dokter dan perawat serta pihak-pihak yang ikut peduli dengan penanganan pasien Covid 19 ini, akan saya beri insentif. Ini sifatnya honor sebagai penghargaan. Saya harap tenaga medis sungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas,” kata gubernur.

Ditempat terpisah, Sekda Provinsi Riau, Drs H Yan Prana Jaya MSi, kepada wartawan mengatakan, Riau memang terpaksa serius menangani Corona. Karena virus ini menyebar dengan sangat cepat. Apalagi saat ini sudah 189 orang yang PDP dan hampir 15 ribu orang Riau yang ODP. “Itu jumlah yang banyak. Kita tak ingin Riau seperti China, Italia atau negara lain yang sudah parah dilantak Corona,” ujarnya.

Kata Yan, lupakan sementara sejarah. Lupakan dulu masa lalu antara Riau dan Malaysia. Kita tampung semua orang Riau yang “terusir” dari sana. Mari kita periksa kesehatannya disini. Jangan pulang lalu menghilang begitu saja. Karena virus ini sangat berbahaya, bisa menular tanpa diketahui, seperti hantu yang kita sendiri tak tahu kapan datang dan perginya.

Menurut seorang tenaga medis di Riau, dr. Yandra Agustian SpPD, Corona memang bisa menyerang siapa saja tanpa disadari. Hanya dengan bersalaman, atau menyentuh beberapa benda, virus itu bisa berpindah.

“Coba anda bayangkan, sudah berapa banyak orang yang anda salami. Sudah berapa banyak orang bicara dengan Anda. Sudah berapa benda yang Anda sentuh setiap hari. Mulai dari mesin ATM, pintu mobil, pedal gas motor, pintu rumah, angkutan umum, menerima kembalian uang, menekan tombol lift, jajanan di supermarket dan lainnya. Kemudian setelah itu, Anda menyentuh mulut, hidung dan mata. Semua itu bisa menyebarkan virus dengan cepat,” tegasnya.

Karena itu, Yandra menyarankan, sementara ini, lebih baik di rumah saja. Batasi untuk keluar rumah apalagi berkumpul bersama-sama. Batasi juga bicara dengan orang yang tak dikenal dan mereka yang baru pulang bepergian. Selalulah mencuci tangan, minimal, satu jam sekali. Pakailah masker dan periksakan kesehatan bila terasa demam, batuk atau suhu badan panas tinggi.

Menjawab mengenai penderita Corona di Riau termasuk mereka yang PDP dan OPD, banyak yang datang dari Malaysia, kata Yandra, karena orang Riau memang banyak di negeri seberang itu. “Orang Riau ke Malaysia kan tidak merantau. Mereka bekerja, sekolah atau memang kakek dan nenek mereka di sana. Jadi mereka mengunjungi keluarga,” ujarnya.

Tapi, lanjutnya, bukan berarti virus itu mereka dapatkan dari sana. Beberapa warga Malaysia malah menuduh virus itu berasal dari Riau dan Indonesia. Makanya mereka diminta pulang ke Riau. “Menurut saya, virus itu mereka dapatkan dalam perjalanan balik ke Riau. Karena mereka bersama-sama sampai ratusan bahkan ribuan orang.

“Bukan hal yang lazim dan bermarwah, jika kita menuduh semua yang pulang dari Malaysia, membawa virus Corona. Di Malaysia pun, tak ditemui penderita Covid 19, sebanyak Pasien Dalam Pengawasan di Riau. Juga, hal yang tak pantas jika Malaysia menuduh orang Riau atau orang Indonesia lainnya, membawa Covid 19 ke sana,” jelas Yandra.

Kembali ke masalah Imporium Melayu dan kisah “Semalam di Malaysia” itu, Riau dan Malaya memanglah satu dalam bentang Melayu. Sejarah menulis, mencatat dan membuktikan, kita dari tanah yang sama, darah yang sama dan keturunan yang sama. Memang, Melayu adalah universal. Tak hanya Riau, tapi Palembang, Jambi, Pagaruyung, Deli, Aceh dan lainnya juga adalah Melayu. Namun dari sisi geografi, Riau lebih dekat. Orang Riau hanya butuh beberapa jam saja, sudah bisa sampai di tanah Malaysia, bila dibanding orang Riau ke Jambi, Sumbar atau Palembang.

Bagi orang Riau, jika ke Malaysia, bukan hanya semalam saja. Bisa bermalam-malam, berminggu-minggu, bertahun bahkan berabad. Pun, keturunan orang Kedah, Pahang, Kelantan dan Johor banyak yang tinggal di Riau. Karena masing-masing memiliki banyak kerabat dan tali tembuni.

Dan, mungkin saja orang Negara Bagian Perak, berasal dari Kabupaten Kampar. Orang Melaka berasal dari Indragiri. Orang Negeri Sembilan bernenekmoyang ke Kuantan Singingi. Orang Negeri Johor bermula dari Bengkalis atau Kabupaten Meranti. Atau malah sebaliknya, karena kedekatan yang tak berjarak. Entahlah!

Berikut saya tuliskan pula sebuah puisi tentang negeri yang kini “hancur” ditimpa wabah;

AZAB TALANG

Nafasku panjang berabad
Bertuhan dengan malam
Bermimpi dengan ruh
Berjanji dengan tanah
Langitku luas
Alamku lepas
Aku besar di bumi keramat

Tubuhku adalah jembalang
Nafasku adalah angin
Aku keras karena gelombang
Aku garang karena matahari
Ayahku langit
Ibuku bumi
Aku mati dengan adat

Selama bumi mengembang
Selama waktu berkurun
Tuhan tak pernah pergi
Alam tak pernah mati
Langit beri cahaya bumi
Angin bersahabat dengan gelombang
Anak di depan, adat berjalan

Tapi menjelang gawai
Yang gedang di pondok panjang
Angin diam menunggu malam
Ruh tak kekal mencari akal
Langit gelap bumi memanas
Gelombang tak pasang
Deras beriak tanda tak dalam

Bumi talang beranjak hanyut
Matahari enggan berbagi
Hutan terbakar di rumah tinggi
Wabah menyerang setiap sudut
Sahabat lari tuah menjauh
Adat resam tinggal kenangan
Terbenam dalam ke dasar kelam

Tuhan marah
Angin mengaruk
Tanah diam
Hutan meranggas
Langit hitam
Bumi mengatup
Karena datang segala azab

Tanah berazab
Hutan berazab
Ladang berazab
Ruh berazab
Azab di tanah talang
Patih mati anakpun layuh
Batin mati adatpun lepuh

Aku didera azab zaman
Kami didera hukuman tuhan
Aku cemas di atas pandan
Kami lemas di dalam kandang
Damar tak mengeras
Padi tak menjadi
Wabah tuhan menyerang negeri

Tak ada ayah lagi
Tak ada ibu lagi
Keramat tinggal di mulut
Nafas pecah di perut
Tuhan tinggal disebut
Mimpi habis jembalang binasa
Aku bersimpuh mengenang dosa

Azab yang datang
Hancurkan malam
Wabah yang bertamu
Bagaikan pembunuh
Tanah mati
Hutan mati
Ladang mati
Adat mati akupun mati

Pekanbaru; 2203.2020

DHENI KURNIA; adalah Wartawan dan Seniman. Pemimpin Redaksi Harian Vokal dan Harian Detil Riau.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru