oleh

Puncak Kompe, Gairah Wisata di Pelosok Desa

Kampar, Detaksatu : Puncak Kompe, terlintas di benak kita ketika mendengar nama Kompe disebut, menggugah alam bawah sadar akan nama sejenis Pohon Kayu Kompe yang teksturnya kuat, keras dan tahan lama jika digunakan dan dimanfaatkan untuk tiang dan dinding dinding rumah penduduk pada masanya ketika itu. Pada tahun 1970 s.d 1990 an.

Kelebihan lain dari kayu Kompe menurut sumber informasi H. Abu Bakar yang saat ini berusia 52 tahun pada saat kami wawancara beliau mengatakan bahwa ” Kayu Kompe ini ibarat sebuah magnet yang menjadi daya tarik gerombolan pasukan lebah untuk dijadikan sebagai rumah singgah bagi mereka (lebah), dalam berproses menghasilkan karya karya terbaik yakni tetesan demi tetesan madu yang memiliki segudang manfaat bagi kesehatan manusia.

Sekilas sejarah tentang Taman Wisata Puncak Kompe

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Begitu juga Desa yang maju adalah desa yang bisa menghargai sejarah masa lalu, berkarya dan berinovasi mengembangkan potensi potensi emas yang ada diwilayahnya. Kayu Kompe menjadi legenda bagi masyarakat setempat sehingga dijadikan sebagai brand wisata kekinian. Terang Mushelmi Ketua Pengelola Taman Wisata Puncak Kompe.

Bukti bahwa Koto Mesjid menghargai sejarah ditandai dengan membuat branding taman wisata ini dengan nama Puncak Kompe dengan konsep wisata kekinian. Nama Kompe tetap melekat, karena dulunya lokasi taman wisata Puncak Kompe yang sekarang ini viral, banyak pohon pohon kayu Kompe yang tumbuh dan bermanfaat bagi penduduk sekitar untuk dijadikan kebutuhan papan mereka (bangun rumah dari Kayu Kompe). Tambah Mushelmi.

Mambangkik Batang Taghondam

Menurut Mushelmi ketika kami melakukan wawancawa beliau menyampaikan” Desa Koto Mesjid adalah sebuah desa Pemekaran dari desa Pulau Gadang pada tahun 2005. Desa Koto Mesjid terkenal dengan slogan tiada rumah tanpa kolam. Salah satu Kelebihan desa ini adalah sebagai penghasil ikan patin terbesar di Kampar. Dan beberapa prestasi yang telah dicapai desa Koto Mesjid diantaranya masuk Nominasi sebagai desa Wisata Nomor dua di Propinsi Riau. Ungkap Mushelmi.

Sebelum dikelola menjadi Taman Wisata Puncak Kompe hanyalah sebuah bukit yang ditumbuhi semak belukar, bak lahan tidur yang terlena dengan lelapnya. Sejak 2017 hingga saat ini Puncak Kompe sudah menjadi salah satu icon wisata yang menjadi kebanggan desa Koto Mesjid. Puncak Kompe yang dulunya sebuah lahan yang sama sekali tidak produktif, kini Puncak Kompe hadir dan tampil sebagai hotspot wisata yang banyak dikunjungi. Pungkas beliau.

Pesona Taman Wisata Puncak Kompe, bak seorang anak gadis yang bersolek yang bisa meneduhkan dan menyejukkan pandangan mata bagi yang melihatnya. Bukan hanya sekedar cantik dan indah namun, Puncak Kompe memberi makna bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar khususnya warga desa Koto Mesjid. Kenapa? yaa tentu saja dengan kehadiran Taman Wisata Puncak Kompe ini bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan desa Koto Mesjid di bidang ekonomi dan pariwisata.

Mengingatkan kita akan sebuah pribahasa ” Mambangkik batang taghondam” yang artinya mengangkat sumber daya yang ada menjadi sebuah karya nyata demi kemajua sebuah desa “. Ungkap Mushelmi Ketua Taman Wisata Puncak Kompe.

Puncak Kompe Dalam Bingkai Inovasi

Menurut Mushelmi lagi ” Puncak kompe akan melakukan penghijauan tanaman buah sehingga nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Sambil menikmati pesona alam yang indah para pengunjung juga bisa mencicipi buah segar yang langsung bisa dipetik dari pohonnya. Jelas Mushelmi dengan ekspresi bahagia mengingat terobosan terobosan yang akan dilakukannya.

Lanjut kata Mushelmi ” Sekarang ini kami melakukan pengembangan ke Pulau Qeis, Pulau Pada,
Pulau Semut, yang bisa dinikmati oleh para petualang alam untuk melaksanakan kegiatan family gathering, camping maupun kegiatan kegiatan outdoor lainnya. Ujar Mushelmi

Selain memiliki gugusan gugusan pulau yang tersebar di semenanjung danau PLTA Koto Panjang ini, kelompok Sadar Wisata Puncak Kompe juga menyediakan fasilitas untuk memanjakan para pengunjung dengan atraksi Donat Boat, yang akan memacu Adrenalin pecinta wisata yang berbasis air ini. Pungkas Mushelmi.

Dan yang tidak kalah menariknya juga ada sorga tersembunyi Air Terjun Tambang Mughai, yang bisa mengendorkan syaraf syaraf yang disebut dengan istilah terapy air terjun, dan ini juga akan mampu membangkitkan gairah wisata di pelosok desa. Jelas Mushelmi berapi api.

Dan dapat juga kami informasikan kepada para pecinta wisata bahwa jarak tempuh dari Puncak Kompe menuju Air Terjun Tambang Mughai membutuhkan waktu hanya 60 menit dengan menggunakan kapal perahu dengan kapasitas penumpang 10 sd 12 orang. Tutup Mushelmi

Laporan : Syam/Wil

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru