oleh

Air Molek Dulu Istana Orang Bunian, Ini Kata Peneliti Sejarah Indragiri

Rengat, Detaksatu : Asal muasal negeri Air Molek dibuka oleh kakek buyut Seniman Senior Panggung Datuk Jantan (Toktan) Riau, Al Haj Aris Abeba.

Air Molek dulunya adalah hutan raya tak berpenghuni tak seorangpun dari masyakarat Indragiri yang berani membuka lahan di Air Molek, karena dianggap angker dan diduga sebagai Istana Orang Bunian (Perkampungan Jin).

Menurut peneliti sejarah Indragiri Hulu, Dedi Iswanto, nama Air Molek juga tidak tercatat dalam data atau histori Kerajaan Indragiri, nama Air Molek dikenal setelah masuknya penjajah di zaman imperialis Belanda sekitar tahun1800-an, tak ada satupun catatan sejarah Kerajaan Indragiri yang menyebutkan nama Air Molek.

Nama itu sendiri berasal dari kata “ayo” dan “mole”. Ayo berarti air, dan mole berarti menyunsang, jadi Ayo Mole, yang kemudian berubah menjadi Air Molek, adalah Air yang menyunsang, bukanlah air yang indah seperti banyak ditafsirkan orang saat ini.

Di Sungai Indragiri dalam wilayah Air Molek, air justru tidak mengalir dari hulu ke hilir, tapi sebaliknya dari hilir ke hulu.

Menurut penelitian Dedi Iswanto, ketika Belanda menaklukkan Indragiri dan membuat keresidenan di Rengat, para kolonialis yang tak takut dengan jin, orang bunian dan iblis itu, melihat potensi besar yang berada di hutan Air Molek.

Tanah berkeliling sungai, pasir dan hutan luas itu, sangat cocok untuk areal perkebunan rempah dan gambir.

Karenanya, Asisten Residen Belanda di Rengat memerintahkan agar hutan angker tersebut segera dijadikan lahan pertanian gambir dan damar.

Untuk mewujudkan kerja itu, Belanda kemudian memerintahkan sejumlah kuli kontrak dari Jawa membuka hutan untuk dijadikan kebun gambir.

Namun, pekerja tersebut tak banyak yang berani, mereka memilih lari dari lokasi atau malah memilih mati dari pada harus membuka Rimba Puaka Air Molek.

Barulah awal tahun 1900-an, Belanda mendapatkan orang yang tepat.

Melalui kaki tangannya, para penjajah menemui Haji Saleh, Penghulu Kampung Pekanheran, salah satu wilayah Kerajaan Indragiri, untuk membuka hutan menjadi perkebunan.

Selain akan membuka lahan perkebunan gambir, pihak Belanda juga akan membuka hutan untuk perkebunan karet secara besar-besaran.

Haji Saleh, yang juga seorang guru agama yang mukim di Parit Kelubi, Pekanheran, kemudian menunjuk ponakannya sendiri bernama Haji Husin untuk melaksanakan perintah tersebut.

Haji Husin pun setuju dan mulai saat itu, dia memboyong seluruh keluarganya dari Pekanheran ke kampung yang akan diretas. Dibantu oleh adik kandungnya, Abdul Madjid dan ratusan kuli kontrak dari Jawa yang tersisa, maka dimulailah “proyek” pembukaan lahan karet dan gambir.

Haji Husin, menurut penelitian Dedi, bernama lengkap Husin bin Cek Mahmud. Ayahnya adalah Mahmud bin Cek Muhammad, berasal dari Daek Lingga. Hubungan antara Daek Lingga dan Indragiri ketika itu cukup baik, sehingga terbuka hubungan dagang yang intens.

Banyak orang orang Daek bermukim dan berdagang di wilayah Indragiri, Itu pulalah yang menyebabkan Haji Husin berjodoh dengan ponakan kandung Haji Saleh, keturunan asli Pekanheran. Haji Husin sebelumnya berprofesi sebagai seorang pedagang dan pelaut yang pemberani.

Dengan modal keberanian inilah, Haji Husin pindah ke darat, memulai kehidupan baru di hutan yang kemudian diberi nama Air Molek.

Selain bantuan kuli kontrak di bawah pimpinan Muntarib, Husin juga mengajak orang-orang berani yang bermukim di sekitar wilayah itu, untuk sama sama membangun kebun.

Sejak itulah Airmolek mulai terbuka dan ramai. Hutan angker itu seketika menjadi perkebunan karet yang tak habis sejauh mata memandang.

Mulai dari hutan perbatasan Bukit Tigapuluh, Hutan Bukit 12, sampai Hutan Batang Kuantan dan Singingi, penuh dengan tumbuhan karet atau getah.

Pihak Belanda kemudian mendirikan pabrik karet terbesar di Indonesia, bertempat di Air Molek bekerjasama dengan Pemerintah Kerajaan Swiss yang diberinama CMI (Culture Maskapai Indragiri).

Mereka juga membuka pabrik gambir tak jauh dari pusat pengolahan karet. Para pendatang dari banyak daerah, juga mulai berduyun-duyun ke Air Molek.

Mereka datang dari Sumatera Barat, Jambi, Tapanuli, Bangka Belitung, Kampar, Ambon, bahkan dari Arab, Pakistan, Johor dan lainnya.

Haji Husin sendiri, memilih tinggal bersama keluarganya di Dusun Salak, sebuah tempat yang memang paling tinggi di Air Molek.

Di depan pemukimannya itu terdapat Sungai Indragiri tempat dermaga dan kapal-kapal mengangkut hasil kebun serta kapal penumpang/barang bersandar.

Hingga saat ini, sebagian besar keluarga Haji Husin masih bermukim di Dusun Salak yang kini sudah berubah nama menjadi Kelurahan Tanah Tinggi.

Menurut Sejarahwan Inhu, Ahmad Yusuf, Dusun Salak, adalah Desa pertama di Air Molek, nama ini diberikan oleh Haji Husin, karena ketika pertama dia datang dan membuka lahan di tempat tersebut, banyak ditemukan Salak Hutan.

Dia memilih tinggal di situ, karena tempat ini merupakan lokasi yang paling tinggi sepanjang Sungai Indragiri, lokasinya juga indah, tempat laluan angin dan bisa memandang tempat yang jauh selepas pandangan mata.

Keberhasilan Haji Husin membuka hutan Air Molek, hingga membentuk perkebunan besar dan perkampungan, tentu saja mendapat apresiasi yang tinggi dari Asisten Residen Belanda di Rengat, karena itu, Belanda kemudian mengangkat Haji Husin menjadi penghulu atau penguasa kampung.

Sejak saat itu pula, namanya bertambah menjadi Haji Penghulu Husin. Setelah pengangkatan menjadi Penghulu, segala urusan yang berhubungan dengan pemerintahan di Air Molek dipercayakan kepada Haji Husin.

Dikatakan Ahmad Yusuf, Air Molek kemudian menjadi desa dibawah Kewedanaan Kelayang, dengan Konteler Indragiri di Rengat dibawah Asisten Residen sebagai kepala konteler. Sedangkan Keresidenan berada di Tanjungpinang (Sekarang Ibukota Provinsi Kepri), mencakup Riau Kepulauan dan Riau Daratan.

Pernah satu ketika Belanda akan membuat kantor perwakilan asisten residen serta pesanggrahan (tempat peristirahatan pejabat Belanda) di Dusun Salak atau Tanah tinggi Kelurahan Air Molek I Kec Pasir Penyu Kab Inhu, Keresidenan di Tanjungpinang dan Assisten Residen di Rengat juga sudah setuju, tapi Penghulu Husin berkilah, bahwa di lokasinya tinggal, terdapat banyak kuburan.

Tentu saja Belanda tak percaya begitu saja, bahkan para penjajah itu, akan mengecek secara langsung ke Dusun Salak, tapi Penghulu Husin tak kehilangan akal, dia meminta kepada orang-orang kampung untuk mencari kayu tua dan lapuk dan segera membuat gundukan tanah seperti kuburan, lalu di gundukan itu, ditancapkan kayu-kayu tua layaknya nisan.

Pada saat Residen dari Tanjungpinang datang, dia terkejut melihat banyaknya kuburan. Kemudian Residen membatalkan rencana pembangunan pesanggrahan dan meminta Penghulu Husin mencari lokasi lain yang bagus dan cocok untuk membangun.

Maka ditunjuknyalah daerah Batu Gajah (masih dalam wilayah Airmolek) yang juga tidak terlalu jauh dari Sungai Indragiri. Penghulu Husin juga meminta izin Residen dari Tanjungpinang untuk membangun sebuah mesjid di Pasar Air Molek.

Permintaan itu dipenuhi dan jadilah Masjid Raya pertama di Air Molek yang diberinama Masjid Al Mujahidin.

Dalam kurun waktu yang berjalan, Haji Husin dari pernikahannya dengan putri cantik berdarah Kedatuan Talang Mamak Pekanheran, Hj Kalsum, mendapatkan sembilan anak yang sebagian besar lahir di Tanah Tinggi. Mereka adalah Hj Nur, Hj Khadijah.

Haji Ismail, Hj Fatimah, Hj Maimunah, Usman, Sulaiman, Abdurrahman dan Muhammad Arsyad.

Kemudian, anak Haji Husin yang kedua yakni Hj Khadijah, dinikahkan dengan Haji Muhammad Thalib yang juga berasal dari kampung mereka, Pekanheran, Haji Thalib masih termasuk keponakan jauh Penghulu Husin.

Dia meminta Haji Thalib menjadi menantunya, untuk meneruskan keturunan dan kepemimpinannya di Air Molek.

Haji Muhammad Thalib dan Khadijah dikaruniai delapan orang anak masing-masing, Muhammad Syarif Thalib, Ibrahim Thalib, Ali Thalib, Ali Akbar Thalib, Fatma Thalib, Hamida Thalib, Zumrawi Thalib, dan Mujtahid Thalib.

Dari anak keempat Haji Muhammad Thalib, yang bernama Haji Ali Akbar Thalib, lahirlah 14 orang anak dan satu diantaranya adalah Haji Asrial Ali Akbar.

Haji Asrial adalah anak lelaki yang paling besar dalam keluarga H Ali Akbar Thalib.

Asrial setamat SD di Air Molek, disekolahkan ke Pesantren Gontor Ponorogo, Jawa Timur, kemudian Madrasah Aliyah Negeri Pekanbaru.

Haji Asrial meneruskan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim (kini menjadi UIN) Pekanbaru, hingga mendapatkan gelar sarjana muda.

Haji Asrial Ali Akbar inilah yang kemudian mengubah namanya menjadi A ARIS ABEBA. Perubahan nama ini dilakukannya seorang diri dan “dipatenkannya” ke Dinas Kependudukan Riau.

Kepada ayahnya, Haji Ali Akbar Thalib, Aris Abeba mengatakan, bahwa nama Asrial tidak bagus serta kalah jauh, kalah pamor dan kalah komersial dibandingkan A Aris Abeba.

Tapi hingga kini, tak banyak orang yang tahu, apa kepanjangan huruf “A” di awal namanya. “Yang pasti bukan Asrial,” katanya saat ada yang bertanya.

Begitulah Al Haj Aris Abeba adalah generasi keempat keturunan Penghulu Husin yang membangun Air Molek.

Dia adalah keturunan para pemberani yang di dalam tubuhnya bercampur bermacam-macam darah.

Ada darah Lingga, darah Indragiri, darah Talang Mamak dan Darah seorang pemimpin yang taat akan agama Islam.

Kakek dari kakek buyutnya, Haji Saleh Pekanheran, adalah salah seorang ulama yang mengembangkan agama Islam di Indragiri.

Beberapa paman dan keluarga besar ayah serta ibunya, juga dikenal sebagai ulama dan pemimpin tidak saja di Air Molek tapi di Indragiri Hulu hingga saat ini.

Salah seorang adik ayahnya, Haji Mujtahid Thalib, bahkan pernah menjadi Bupati Kabupaten Indragiri Hulu.

Kini A Aris Abeba, genap 64 tahun, Umur yang sarat dengan pengalaman dan kisah hidup yang panjang. Berbagai manis dan pahit kehidupan sudah dia rasakan.

Dan kini juga, dia mengaku lebih suka merenung tentang masa depan di rumahnya, tak kira masa depan itu masih panjang ataukah tinggal sedikit.

Dengan Panggung Toktan yang didirikannya, terkadang dia berkeliling dunia untuk berkesenian atau hanya sekadar menikmati dan mensyukuri hidup yang diberikan Allah SWT.

Generasi kelima dari keturunan Penghulu Husin, kini juga sudah mulai dewasa dan menjadi diri mereka sendiri.

Dari Perkawinan A Aris Abeba dengan Hajah Mariana, lahir empat anak yakni, Ayatullah Al Kahfi, Dayang Bayduri, Cori Islami dan Al Maghribi.

Aris Abeba yang kini dipanggil Datuk Jantan (Toktan) juga sudah diberi tiga orang cucu, atau generasi keenam dari Penghulu Husin.

Generasi pemberani yang akan terus hidup namanya di sebuah negeri yang bernama Air Molek.

Ditulis oleh H Dheni Kurnia
Peneliti sejarah Talang Mamak, asal Airmolek, Indragiri Hulu
Tulisan ini didedikasikan buat Bang Aris Abeba sempena ulang tahunnya ke-64,
Barakallah fi umrik Bang, Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin.

Laporan : Fauzi INHU

MENCARI PEMIMPIN 2020 PILWALKO DUMAI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru