oleh

Tabungan di Bank Sampah Hijau Capai Rp 200 Ribu

Pekanbaru, Detaksatu.com – Bank Sampah salah satu Inovasi Persampahan di Kota Pekanbaru Kecamatan Tampan. Di tempat ini berbagai aktivitas terkait manajemen persampahan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pendataan, penukaran sampah, rintisan teknologi pengelolaan sampah, pembibitan tanaman, pembuatan pupuk kompos, hingga produksi produk ekonomi berbahan baku barang bekas.

Aktivitas Bank Sampah Hijau telah berlangsung selama dua tahun.Hanya saja, kantornya masih belum berdiri sendiri dan belum terintegrasi dengan aktivitas manajemen persampahan lainnya. Aktifitasnya setiap hari Rabu, selanjutnya sekali sepekan di jemput Bank Sampah Berlian Kecamatan Tampan.

“Sampah bukan masalah, justru sampah bisa membawa berkah. Ini kegiatan yang mulia dan luar biasa, sampah tidak hanya barang sisa yang tak berguna, tetapi bisa menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi,”kata Lurah Tobekgodang Yasir Arafat, saat meninjau kegiatan Bank Sampah Hijau di kantor Kelurahan Tobekgodang, Jalan Damai Rabu (14/8).

Adanya bank sampah ini, lanjut Yasir, masyarakat bisa semakin peduli pada sampah, membiasakan mengumpulkan sampah dan memilah sampah kering dan basah. Selain mengurangi volume sampah, ini juga bisa membuat lingkungan sekitar menjadi lebih bersih dan sehat. “Gerakan ini menjadi konsolidasi budaya hidup bersih dan sehat,”ujarnya.

Yasir menambahkan, Bank Sampah Hijau sudah berdiri sejak 18 Juli 2018 lalu. Namun, kantornya masih menggunakan pekarangan serba guna kantor Kelurahan. Kedepan kami berharap adanya kantor baru yang terintegrasi, aktivitas manajemen persampahan bisa lebih efektif.

“Bank sampah memiliki tujuan awal untuk mewujudkan Tobekgodang yang bersih dan hijau, dengan mengusahakan sampah dapat dijadikan sesuatu yang memiliki nilai ekonomis melalui inovasi pengolahan sampah terpadu lewat 3R (Reuse, Recycle, Reduce). Di tempat ini kegiatan yang dilakukan mengolah sampah menjadi barang yang bermafaat, seperti tas dari bungkus deterjen, tempat tisu, dan sampah organik dijadikan pupuk kompos,” kata Lurah Yasir.

Nurul Albaniah, yang selama ini rajin ikut mengelola sampah di rumahnya mengaku sangat senang karena buku tabungan Bank Sampah miliknya telah mencapai Rp 200 ribu. Dia rutin mengumpulkan sampah yang ada di rumah maupun di sekolah untuk dipilah dan ditukar menjadi uang di Bank Sampah Hijau (BSH).”Dana dari Bank Sampah ini biasanya saya gunakan untuk membeli buku,” kata Nadia.

Laporan : Kim PKU

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru