oleh

Di Sini Peradaban Bermula

Madinah, Detaksatu.com – Ka’bah adalah sebuah keanehan psikologis. Setiap orang yang memandangnya akan memiliki perasaan sama tapi berbeda. Sama-sama takjub tapi sama-sama terpapar oleh petualangan bathin yang tidak sama. Jamaah yang memandang dengan kasat mata akan dibawa bertualang ke alam yang tidak disadarinya dengan kisah petualangan yang berbeda-beda

Meresapi Ka’bah selalu berhasil menguras air mata. Ka’bah seperti sumur mata air air mata. Dia seperti mesin sedot yang tak pernah berhenti menguras air mata siapapun yang memandangnya.

Apakah karena di Ka’bah ada batu alien yang mampu merekam siapapun yang menyentuhnya serta apapun yang terjadi di sekelilingnya?

Sekali lagi, bagaimana bisa bahwa Ka’bah adalah telaga air mata?

Jawaban sederhananya, Ka’bah memang bukan dibangun manusia, tidak hanya ditawafi manusia, tidak hanya untuk kepentingan manusia, dan dia tidak hanya berhubungan dengan materil bumi semata. Komplit dan epik kan?

Ka’bah memiliki sejarah yang teramat panjang. Dia adalah hulu dan hilir sejarah manusia. Ka’bah adalah sublimasi fisik, psikis, dan metafisik manusia dan alam raya. Dan, banyak yang terbabit secara langsung dengan bangunan hitam kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram itu.

Secara fisik dan psikis, setidaknya ada beberapa fase penting yang pernah mewarnai perjalanan panjang Ka’bah sampai hari ini. Dimulai dengan pembangunan Ka’bah secara fisik oleh Nabi Adam AS, lalu kemudian hancur berantakan saat banjir bandang Nabi Nuh, kemudian ditemukan dan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, serta terakhir dibersihkan dari kemusyrikan pada masa kenabian Nabi Muhammad saat melakukan Fathu Makkah. Perjalanan fisik dan spiritualnya melintas zaman berzaman.

Inilah yang disebut episentrum peradaban manusia dan dunia. Pertama, Nabi Adam adalah bapak dari segala manusia. Darinyalah kemudian terlahir anak-anak yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru benua. Seluruh populasi penduduk dunia (mungkin minus Charles Darwin dan pengikutnya) adalah pengembangbiakan manusia secara fisik yang berasal dari Nabi Adam dan Hawa di Makkah. Kaum Negrito ke belahan Afrika. Kaum Mongolit di Asia jauh, serta Semit di pertengahannya.

Kedua, Nabi Ibrahim adalah bapak muasal pengembangbiakan secara spiritual. Dari Nabi Ibrahim kemudian mengalir hampir semua peradaban bernuansa agama. Hampir seluruh penduduk bumi, terpapar oleh ajaran dan peradaban spiritual yang bersumber pada Nabi Ibrahim. Karena dari anak keturunan Ibrahim inilah kemudian lahir Yahudi, Nasrani, Majusi, dan tentu saja Islam.

Ketiga, pada masa Nabi Muhammad, Ka’bah diletakkan kembali pada mawqufnya. Dibersihkan dari kemusyrikan dan diberitahukan kepada dunia bahwa kiblat di dunia adalah Ka’bah.

Sesungguhnya bangunan kubus berqiswah hitam itu sejatinya bukanlah kiblat otoritas muslim secara an sich. Dia bukan hanya hulu dan hilir umat Islam. Karena sesungguhnya dari sinilah berawal seluruh populasi umat, peradaban spiritual, dan lainnya.

Jadi andai kita merunut sejarah secara holistik, sesungguhnya seluruh manusia berasal dari sana dan seluruh agama berkiblat ke sana. Karena di sinilah populasi Adam dan Hawa dimulai. Di sini pula bapak segala agama yang hanif itu bertapak.

Persoalan kemudian banyak yang mengingkari, itu adalah sifat manusia yang ego. Akal dan nafsu telah membutakan tentang siapa sebenarnya ibu dan bapak kandung peradaban dan ketuhanan mereka.

Kesimpulan sederhana dari paparan ini, Ka’bah atau Makkah telah berhasil menjadi ibu kandung peradaban dunia. Baik secara populasi maupun spiritual dan pemaripurnaan. Maka kalau pada hari ini Makkah menjadi tempat rendezvous terbesar dunia adalah hal yang sudah sepatutnya. Ibarat ayam pulang ke induk, sirih pulang ke gagang. (Bersambung),

Oleh : Saidul Tombang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru